Sejarah dan Pengertian Ludruk, Teater Rakyat Khas Jawa Timur
Berawal dari lerok yang dibawakan petani Jombang, ludruk berkembang menjadi teater rakyat sarat kritik sosial dan budaya.
Penulis: Kevin Dimas Prasetya | Editor: Dwi Prastika
Ringkasan Berita:
- Ludruk merupakan kesenian tradisional Jawa Timur yang berkembang dari lerok yang dipelopori Pak Santik sekitar 1907.
- Awalnya berupa hiburan sederhana, kesenian ini berkembang menjadi Besutan pada 1915 dan berubah menjadi ludruk modern pada 1931.
- Selain sebagai hiburan, ludruk juga menjadi media kritik sosial dan perjuangan, terutama melalui peran tokoh seperti Cak Durasim.
TRIBUNMADURA.COM – Ludruk merupakan salah satu kesenian tradisional khas Jawa Timur yang lahir dari kehidupan masyarakat dan berkembang sebagai media hiburan sekaligus kritik sosial.
Berdasarkan sumber disperpusip.jatimprov.go.id, ludruk secara etimologis berasal dari kata "molo-molo" dan "gedrak-gedruk," yang mencerminkan perpaduan antara unsur verbal berupa ucapan, kidungan, dan dialog, serta unsur gerak berupa tarian dan hentakan kaki di panggung.
Dalam praktiknya, ludruk memadukan dua unsur utama, yakni bahasa (verbal) dan gerak (visual).
Unsur verbal diwujudkan melalui kidungan dan dialog, sementara unsur gerak tampak dalam tarian maupun lakuan para pemain di atas panggung.
Kombinasi keduanya menjadikan ludruk sebagai bentuk teater rakyat yang utuh.
Baca juga: Pulau Sapudi Sumenep dalam Lintasan Sejarah, Dari Kerajaan hingga Tradisi Nyamplong
Berawal dari Lerok hingga Besutan
Secara historis, perkembangan ludruk berawal dari bentuk awal yang dikenal sebagai Ludruk Bandhan pada abad XII hingga XV, yang masih bersifat magis dan menonjolkan kekuatan batin.
Memasuki perkembangan berikutnya, muncul kesenian lerok yang dipelopori oleh Pak Santik dari Jombang, Jawa Timur.
Dilansir dari Tribun Jatim Network sekitar tahun 1907, Pak Santik mulai tampil sebagai pengamen keliling dengan gaya khas, menggunakan riasan sederhana dan mengandalkan suara mulut sebagai iringan.
Seiring waktu, lerok berkembang menjadi pertunjukan kelompok dengan tambahan pemain seperti Pak Amir dan lainnya.
Pada sekitar tahun 1915, pertunjukan ini mulai menggunakan alat musik seperti gendang dan jidhor serta menghadirkan struktur yang lebih jelas.
Dari sinilah lahir bentuk baru bernama Besutan, yang diambil dari tokoh utama Besut.
Pertunjukan besutan mulai menghadirkan alur cerita, konflik, serta kritik sosial yang mencerminkan kehidupan masyarakat.
Baca juga: Mengenal Ragam Tari Tradisional Madura, Dari Sakral hingga Kepahlawanan
Lahirnya Ludruk Modern
Perkembangan berikutnya terjadi pada tahun 1931, ketika Besutan bertransformasi menjadi ludruk dalam bentuk sandiwara yang lebih kompleks.
Ciri khas seperti tari ngremo, kidungan, dagelan, dan lakon cerita mulai terbentuk dan menjadi identitas ludruk.
Kemudian pada tahun 1937, muncul tokoh penting dari Surabaya, yaitu Cak Durasim, yang membawa ludruk ke arah yang lebih modern dengan memasukkan cerita legenda serta memperkuat unsur drama.
Baca juga: Kampung Budaya Polowijen Malang Gelar Tradisi Megengan Sambut Ramadan 2026
Ludruk sebagai Media Perjuangan
Sejarah ludruk
Seniman ludruk
Ludruk
teater rakyat
Jawa Timur
Pak Santik
cak Durasim
Madura
TribunMadura.com
Tribun Madura
Berita Tribun Madura
berita Tribun Madura hari ini
| Ribuan Warga Daftar di Hari Pertama, Soekarno Fun Run Sumenep 2026 Gaungkan Semangat Nasionalisme |
|
|---|
| Menikmati Keindahan Gunung Bromo dengan Aman, Wisatawan Wajib Pahami Risiko dan Aturan Kunjungan |
|
|---|
| Jejak Kepemimpinan 3 Bupati Lamongan: Dari Masfuk, Fadeli hingga Yuhronur Efendi |
|
|---|
| Menjaga Cita Rasa Tradisional, Ini Deretan Kuliner Legendaris Jember yang Jadi Favorit Wisatawan |
|
|---|
| Masih Berdiri hingga Kini, Simak 5 Fakta Menarik Rumah Kelahiran Bung Karno di Surabaya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/madura/foto/bank/originals/ilustrasi-ludruk-ilustrasimonolog-ilustrasi-Ludruk-Karya-Budaya-mojokerto.jpg)