Minggu, 3 Mei 2026

Ramadan 2026

Puasa Tak Sekadar Ibadah Personal, Guru Besar UIN Madura: Ramadan Mengatur Ritme Sosial

Ramadan menghadirkan “sakralisasi temporal” di mana jam kerja menyesuaikan, aktivitas hiburan dibatasi, dan etika sosial menguat. 

Tayang:
Penulis: Hanggara Pratama | Editor: Dwi Prastika
Istimewa/TribunMadura.com
RAMADAN - Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura Pamekasan, Achmad Muhlis, Selasa (24/2/2026). Dia mengatakan, Ramadan menghadirkan “sakralisasi temporal” di mana jam kerja menyesuaikan, aktivitas hiburan dibatasi, dan etika sosial menguat.  
Ringkasan Berita:
  • Guru Besar UIN Madura sebut puasa berdampak sosial di ruang publik.
  • Ramadan bentuk solidaritas kolektif, namun berpotensi timbulkan friksi sosial.
  • Kebijakan publik selama Ramadan perlu persuasif demi jaga harmoni.

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Hanggara Pratama

TRIBUNMADURA.COM, PAMEKASAN - Puasa Ramadan dalam Islam kerap dipahami sebagai ibadah personal.

Namun dalam praktik sosial, puasa justru hadir di ruang publik dan membentuk ritme kehidupan bersama selama Ramadan.

Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Madura Pamekasan, Achmad Muhlis, mengatakan, puasa tidak pernah sepenuhnya privat.

"Ia mengatur perilaku sosial, memperkuat simbol religius, dan membentuk norma kolektif di ruang publik," ujarnya, Selasa (24/2/2026).

Menurutnya, Ramadan menghadirkan “sakralisasi temporal” di mana jam kerja menyesuaikan, aktivitas hiburan dibatasi, dan etika sosial menguat. 

Kondisi ini memperlihatkan bagaimana puasa berfungsi sebagai institusi sosial yang membangun solidaritas, namun berpotensi menimbulkan friksi dalam masyarakat majemuk.

Ketegangan muncul ketika norma mayoritas berbenturan dengan kebebasan individu. 

Karena itu, kebijakan publik selama Ramadan idealnya menempuh pendekatan persuasif dan dialogis, bukan pemaksaan simbolik, agar harmoni sosial tetap terjaga.

Baca juga: Salat Witir dan Tarawih Ramadan: Tata Cara, Niat, Doa serta Keutamaannya bagi Umat Muslim

Achmad Muhlis menekankan, bagi yang berpuasa, lingkungan yang suportif membantu ketenangan batin. 

Sementara bagi yang tidak berpuasa, tekanan sosial berlebihan justru dapat melahirkan rasa terasing. Di sinilah etika sosial Islam diuji.

"Puasa sejati melatih pengendalian diri dan kelembutan hati, bukan superioritas moral," katanya.

Baca juga: Hukum Menangis saat Puasa Ramadan, Apakah Membatalkan? Ini Penjelasan Ulama dan Dai

Berdampak pada Publik

Dirinya menegaskan, puasa adalah ibadah personal yang berdampak pada publik.

Dampak itu akan memperkuat kohesi sosial jika dikelola dengan empati, adab, dan kebijakan yang proporsional.

"Puasa bukan untuk mengontrol orang lain, melainkan mendidik diri agar mampu hidup bermartabat di tengah perbedaan," pungkas Ketua Senat UIN Madura tersebut.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved