Rabu, 3 Juni 2026

Berita Situbondo

Taman Nasional Baluran, Pesona 'Africa van Java' di Kabupaten Situbondo

Taman Nasional Baluran di Situbondo menyimpan sejarah panjang konservasi dan pesona savana eksotis yang dijuluki 'Africa van Java.'

Tayang:
Penulis: Kevin Dimas Prasetya | Editor: Dwi Prastika
situbondokab.go.id
TAMAN NASIONAL BALURAN - Hamparan Savana Bekol di Taman Nasional Baluran, Situbondo, menjadi ikon wisata "Africa van Java" yang menawarkan panorama alam eksotis serta habitat berbagai satwa liar khas Jawa Timur, Senin (1/6/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Taman Nasional Baluran di Situbondo merupakan kawasan konservasi yang memiliki sejarah perlindungan sejak era Hindia Belanda.
  • Dikenal sebagai 'Africa van Java,' Baluran menawarkan Savana Bekol yang luas, beragam satwa liar, hingga destinasi favorit seperti Pantai Bama.
  • Selain menjadi tujuan wisata unggulan, kawasan ini juga berperan penting dalam pelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistem di Jawa Timur.

TRIBUNMADURA.COM – Taman Nasional Baluran di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, menjadi salah satu destinasi wisata alam paling ikonik di Indonesia, Senin (1/6/2026).

Dikenal dengan julukan "Africa van Java," kawasan konservasi ini menawarkan bentang savana luas, keanekaragaman satwa liar, hingga panorama pantai yang memikat.

Berdasarkan informasi dari laman resmi Taman Nasional Baluran, kawasan ini merupakan kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem asli dan dikelola menggunakan sistem zonasi.

Pemanfaatannya mencakup kegiatan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budi daya, pariwisata, hingga rekreasi.

Pengelolaan Taman Nasional Baluran mengacu pada prinsip konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

Tiga pilar utama pengelolaan kawasan ini meliputi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, serta pemanfaatan sumber daya alam hayati secara berkelanjutan.

Secara geografis, Taman Nasional Baluran berada pada koordinat 114°29'10"–114°39'10" Bujur Timur dan 7°29'10"–7°55'55" Lintang Selatan.

Kawasan ini berbatasan dengan Selat Madura di sebelah utara, Selat Bali di sebelah timur, wilayah Desa Wonorejo, Sungai Bajulmati, Desa Bajulmati, dan Desa Watukebo di sebelah selatan, serta Sungai Kelokoran dan Desa Sumberwaru di sebelah barat.

Baca juga: 5 Fakta Menarik Kabupaten Situbondo yang Sarat Legenda hingga Sejarah Panjang

Sejarah Panjang Taman Nasional Baluran

Keberadaan kawasan Baluran sebagai area konservasi memiliki sejarah yang panjang sejak masa kolonial Belanda.

Pada 1920, kawasan Baluran diawali dengan usulan pencadangan Hutan Blitoksa seluas 1.553 hektare untuk ditetapkan sebagai areal hutan produksi tanaman jati atau jati bosch.

Kemudian pada 1928, upaya konservasi mulai dirintis oleh Kebun Raya Bogor pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Langkah tersebut menjadi cikal bakal perlindungan kawasan Baluran sebagai habitat satwa liar.

Selanjutnya, pada 29 Januari 1930, Pemerintah Hindia Belanda menerbitkan Surat Keputusan Nomor 89 yang menetapkan Baluran sebagai Hutan Lindung (Boschreserve).

Perjalanan konservasi kawasan ini berlanjut pada 26 September 1937 ketika Pemerintah Hindia Belanda menerbitkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 9, yang dimuat dalam Lembaran Negara Tahun 1937 Nomor 544.

Melalui keputusan tersebut, kawasan Baluran resmi ditunjuk sebagai Suaka Margasatwa (Wildreservaat) dengan luas mencapai 25.000 hektare.

Baca juga: Yoyok Mulyadi Ungkap Strategi Jaga Wisata Alam Situbondo di Tengah Laju Pembangunan Infrastruktur

Dijuluki "Africa van Java"

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved