Selama Pandemi, Angka Perceraian di Bandung Makin Meningkat, Viral Antrean Pengadilan Agama Mengular
Jika dilihat dari data demografis, justru yang banyak bercerai adalah golongan menengah ke bawah.
Pasalnya memang, masalah pekerjaan atau masalah keuangan, bisa memperparah kondisi yang telah ada.
Aulia menyarankan, harusnya pemerintah lebih peka dalam membuat jejaring pengaman sosial bagi masyarakat terdampak Covid-19.

Jika ada bantuan langsung tunai, maka bantuan itu harus tepat sasaran, disalurkan kepada orang yang membutuhkan.
"Contoh beban anggaran mereka, misal yang tadinya gak ada pulsa untuk anak sekarang harus ada kuota untuk belajar, yang tadinya tidak ada harus ada," katanya.
Dijelaskan oleh Aulia, jika tak menerima kondisi normal baru ini, seseorang bisa saja frustrasi.
Jika frustrasi, maka nantinya bisa terjadi berbagai hal.
"Seperti berantem terus, bisa jadi yang tadinya sedikit gak marah jadi marah, dan banyak hal," ujarnya.
Sementara itu, dalam kesempatan terpisah Bupati Bandung, Dadang M Naser mengatakan, angka kelahiran memang meningkat.
Namun, lanjutnya, pertengkaran rumah tangga karena pendapatan berkurang juga meningkat.

"Itu bukan di kita saja ( Kabupaten Bandung) di berbagai tempat juga (terjadi)," kata Dadang di Gedung Moh Toha, Soreang, Kabupaten Bandung, Rabu (26/8/2020).
Lebih lanjut dia mengatakan, saat terjadi hal seperti itu, ulama harus turun tangan memberikan nilai-niali religi.
Tujuannya, agar masyarakat tetap sabar dalam menghadapi bencana seperti saat ini.
"(Jadi suami istri) tidak mengambil jalan pintas, seperti gugat cerai, atau terjadi perceraian," katanya.