Berita Madiun

Lulusan S2 UGM asal Madiun Manfaatkan Popok Bekas Jadi Media Tanam, Cegah Banjir saat Musim Hujan

Alumnus Magister Manajemen Agribisnis Universitas Gadjah Mada memanfaatkan limbah popok untuk media tanam.

Penulis: Rahadian Bagus | Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
TRIBUNMADURA.COM/RAHADIAN BAGUS
Irwan Budiyanto (28), memanfaatkan limbah popok menjadi media tanam, Rabu (27/10/2020). 

TRIBUNMADURA.COM, MADIUN - Sampah menjadi satu di antara sejumlah faktor penyebabnya terjadinya banjir di Kabupaten Madiun pada 2019 lalu.

Sampah-sampah itu menghambat aliran sungai, sehingga menyebabkan banjir di Kabupaten Madiun.

Dari sekian jenis sampah yang dibuang ke sungai, limbah popok sekali pakai atau diapers yang banyak ditemui.

Baca juga: Universitas Trunojoyo Madura Jadi Garda Terdepan Tanamkan Nilai-nilai Kebangsaan kepada Mahasiswa

Baca juga: Nonton Streaming Film Korea Romantis On Your Wedding Day, Lengkap dengan Sinopsis, Endingnya Nyesek

Baca juga: Pengurusan Berkas Kependudukan di Dispendukcapil Pamekasan Gratis, Jangan Sampai Tertipu Calo!

Limbah popok sekali pakai atau diapers bekas ini sengaja dibuang oleh warga di Kabupaten Madiun.

Sebelumnya, Bupati Madiun, Ahmad Dawami mengatakan, masih banyak warganya yang percaya dengan mitos.

Masyarakat percaya hika bayi akan mengalami 'suleten' atau gatal-gatal apabila diapers bekas pakai itu dibakar.

Terinspirasi dengan permasalahan tersebut, seorang warga Desa Sambirejo, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Irwan Budiyanto (28), mencari solusi.

Irwan Budiyanto memanfaatkan limbah atau sampah diapers bekas ini menjadi media tanam.

Pegiat lingkungan ini mengaku resah melihat masih banyak warga di Kabupaten Madiun sengaja membuang sampah diapers di sungai sembarangan.

"Kebetulan saya juga punya bayi, usianya sekitar tiga bulan,"  kata suami dari Ratna Wulandari ini (26), saat berbincang, Rabu (27/10/2020).

"Setiap hari bisa pakai lima sampai enam diaper,” sambung dia.

Irwan menuturkan, orangtuanya masih percaya dengan mitos dan memintanya agar diapers bekas pakai tidak boleh dibakar, dan harus dibuang.

Orangtuanya menyuruhnya membuang ke sungai, namun ia tidak mau, karena dapat mencemari lingkungan dan bisa memicu banjir.

"Awalnya saya buat lubang di pekarangan, untuk mengubur diapers bekas, tapi lama-lama penuh juga lubangnya," katanya.

Alumnus Magister Manajemen Agribisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini kemudian mencoba mencari refrensi pemanfaatan limbah diapers.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved