Breaking News:

Berita Malang

Kota Batu Sering Dilanda Longsor, Ada 26 Titik Longsoran Sejak Awal Januari 2021

Bencana alam tanah longsor merupakan bencana yang paling banyak terjadi di Kota Batu.

Penulis: Benni Indo
Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
TRIBUNMADURA.COM/BENNI INDO
Kendaraan berat membersihkan material tanah yang longsor ke jalan di kawasan Desa Tlekung, Kota Batu, Senin (18/1/2021). 

Reporter: Benni Indo | Editor: Ayu Mufidah KS

TRIBUNMADURA.COM, BATUBPBD Kota Batu mencatat ada 33 bencana alam terjadi di Kota Batu sejak awal Januari 2021.

Bencana alam tanah longsor merupakan bencana yang paling banyak terjadi di Kota Batu.

Longsor telah menjadi langganan ketika musim penghujan datang.

BPBD Kota Batu mencatat, ada 26 titik longsor di Kota Batu.

Baca juga: Longsor di Kawasan Payung Kota Batu, Material Tanah Bercampur Batu Menutupi Sebagian Jalan

Baca juga: Penyebaran Covid-19 di Kota Batu Tertinggi se-Jatim, Rate of Transmission Virus Corona di Atas 2

Baca juga: Tinggal Sebatang Kara, Pria ini Akhiri Hidup dengan Gantung Diri, Depresi Akibat Faktor Ekonomi

Kemudian luapan banjir di 4 titik dan 3 kejadian plengsengan ambrol.

Musim penghujan kali ini disertai fenomena La Nina.

Dibanding tahun lalu, curah hujan harian lebih tinggi.

Curah hujan harian di Kota Batu bisa mencapai 300-500 milimeter pada musim ini.

Kasi Logistik dan Kedaruratan BPBD Kota Batu, Achmad Choirur Rochim mengatakan, rentetan 33 bencana tersebut terjadi sejak awal Januari hingga 18 Januari 2021.

Bencana longsor masih mendominasi, lantaran topografi Kota Batu dikelilingi perbukitan.

“Untuk dampak yang ditimbulkan ada beberapa. Mulai dari plengsengan ambrol, rumah rusak, hingga drainase rusak," kata Rochim, Selasa (19/1/2020).

longsor di Jalan Brigjen Moh Manan, kawasan Payung, Kota Batu, Senin (18/1/2021)
longsor di Jalan Brigjen Moh Manan, kawasan Payung, Kota Batu, Senin (18/1/2021) (dok PUSDALOPS BATU)

Baca juga: Ponorogo Zona Merah Penyebaran Covid-19, Klaster Keluarga Dominasi Kasus Penularan Virus Corona

"Secara material seluruh kerugian diperkirakan mencapai Rp 1,6 miliar,” ujar dia.

Sedangkan biaya renovasi atau perbaikan dari dampak kerugian diperkirakan mencapai Rp 2,9 miliar.

Anggaran perbaikan dikucurkan melalui anggaran belanja tidak terduga (BTT) yang tahun ini dialokasikan sebanyak Rp 10,8 miliar.

BPBD Kota Batu tidak mencatat adanya korban jiwa sepanjang terjadinya bencana alam sejak awal Januari 2021.

Hanya kerugian material karena berdampak pada bangunan fisik seperti rumah atau plengsengan maupun saluran irigasi.

Sedangkan pada Desember 2020, ada 25 bencana alam yang terjadi di Kota Batu. Longsor tetap menjadi bencana yang mendominasi Kota Batu.

Untuk menghindari adanya korban akibat bencana yang terjadi, BPBD Kota Batu melakukan tindakan kesiapsiagaan dengan menargetkan 15 unit pemasangan alat early warning system (EWS) pendeteksi tanah longsor.

Kepala BPBD Kota Batu, Agung Sedayu mengatakan telah menganggarkan enam alat EWS pada 2021.

Saat ini Kota Batu telah memiliki empat unit EWS. Sementara yang dibutuhkan sebanyak 15 unit.

Harga per unit EWS sekitar Rp 110 juta. Dengan rincian ekstensometer sekitar Rp 55 juta dan warning system-nya sekitar Rp 47 juta.

“Karena itu kami mengajukan enam alat pendeteksi longsor tahun 2021. Pengadaan dilakukan secara bertahap," kata dia.

"Enam alat tersebut nantinya akan dipasang di desa/kelurahan yang rawan terjadi longsor. Seperti permukiman yang di sekitarnya terdapat daerah lereng,” urainya.

BPBD memetakan beberapa daerah yang rawan longsor seperti di Kecamatan Bumiaji meliputi Desa Sumber Brantas, Tulungrejo, Gunungsari, Sumbergondo.

Selain itu, satu titik berada di kawasan payung, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu.

"Alat ini nantinya akan mengidentifikasi pergerakan tanah yang dideteksi oleh kabel baja ekstensometer. Sehingga ketika ada pergeseran tanah, alarm akan berbunyi," ungkapnya. (Benni Indo)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved