Breaking News:

Teroris di Jatim Dipindahkan ke Jakarta

Buku Tarbiyah Jihadiyah yang Diamankan Tim Densus 88 dari 22 Tersangka Teroris Ternyata Dijual Bebas

Sebanyak 22 orang tahanan terduga teroris dibawa ke Densus 88. Selain tersangka, barang bukti juga dikirim buku berjudul Tarbiyah Jihadiyah.

TRIBUNMADURA.COM/SUGIHARTO
Sebanyak 22 orang tahanan terduga teroris dibawa ke Densus 88 Mabes Polri di Jakarta dengan pengawalan ketat Brimob Polda Jatim bersenjata lengkap. 

Reporter: Syamsul Arifin | Editor: Elma Gloria Stevani

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Sebanyak 22 orang tahanan terduga teroris dibawa ke Densus 88 Mabes Polri di Jakarta dengan pengawalan ketat Brimob Polda Jatim bersenjata lengkap.

Satu per satu tahanan dimasukkan bus, para tahanan dilakban wajahnya serta kakinya di rantai.

Selain tersangka, barang bukti juga dikirim di antaranya senjata api beserta pelurunya, samurai, uang tunai, kotak amal yang digunakan untuk menggalang dana, serta buku berjudul Tarbiyah Jihadiyah.

Lantas ada apa dengan buku berjudul Tarbiyah Jihadiyah karya Assyaikh Dr Abdullah Azzam?

Baca juga: Pendaftaran Program Kartu Prakerja Gelombang 15 Dibuka Hari Ini, Pembukaan Dimulai Pukul 12.00 WIB

Baca juga: Densus 88 Tangkap 22 Tersangka Teroris Jaringan Jamaah Islamiyah Jatim, Wakapolda: Rekrut 50 Orang

Baca juga: Barang Bukti dari Penangkapan Teroris Jatim, dari Buku Tarbiyah Jihadiyah, Kotak Amal hingga Samurai

Baca juga: Terbanyak di Indonesia, 1,1 Juta Warga Jatim Sudah Divaksin Covid-19

Buku berjudul Tarbiyah Jihadiyah karya Assyaikh Dr Abdullah Azzam saat ditelusuri di mesin pencarian dijual di olshop maupun toko buku. 

Buku tersebut dijual sesuai jilid yang dikehendaki pembeli. Untuk jilid 7-11 dibanderol Rp 135 ribu.

Menanggapi hal ini, mantan instruktur bom Jamaah Islamiyah wakalah Jawa Timur, Ali Fauzi Manzi, mengatakan bahwa buku Tarbiyah Jihadiyah adalah buku yang disusun berjilid-jilid oleh Abdullah Azzam saat konflik antara Afghanistan versus Uni Soviet dulu. 

Buku itu berisi panduan jihad secara tekstual. 

Di kalangan kelompok radikal-ekstrim, Fauzi menyebut bahwa buku Tarbiyah Jihadiyah Abdullah Azzam bukan merupakan buku pegangan wajib. 

"Bukan buku wajib, tapi buku tersebut banyak jadi panduan mereka untuk memahami jihad secara tekstual," katanya melalui pesan singkat, Kamis, (18/3/2021). 

Mantan teroris yang kini getol melakukan deradikalisasi melalui Yayasan Lingkar Perdamaian di Lamongan itu menambahkan bahwa tidak tepat jika polisi menjadikan buku Tarbiyah Jihadiyah Abdullah Azzam sebagai barang bukti karena buku itu banyak beredar. 

"Jangan salahkan bukunya, tapi cara pandang orangnya terhadap buku itu. Kalau saya sudah khatam," ujar Fauzi.

Selain buku Tarbiyah Jihadiyah Abdullah Azzam, Densus 88 juga menyita buku lain, di antaranya berjudul 'Mimpi Suci di Balik Jeruji Besi' karya Ali Ghufron (Mukhlas), 'Sekuntum Rosela Pelipur Lara' karya Imam Samudra, dan buku 'Wasiat Syuhada' WTC'. 

Barang bukti lainnya yang disita, di antaranya, beberapa pedang samurai, puluhan kotak amal, uang tunai lebih dari Rp197 juta, dan lainnya.

Baca juga: Empat Pria Sumenep Ini Diringkus Polisi di 4 Tempat Berbeda, Jadi Budak Sabu dan Terlibat Pencurian

Baca juga: Promo Pertengahan Bulan Alfamart, Paket Internet Gratis Minyak Goreng dan Voucher Cashback 5 Persen

Baca juga: UPDATE 17 Maret 2021: Total Kasus Covid-19 di Sumenep 1.722, Tidak Ada Perubahan yang Signifikan

Baca juga: Detik-detik 22 Tersangka Teroris di Jawa Timur Dibawa ke Jakarta, Mata Ditutup hingga Kaki Dirantai

Penulis: Syamsul Arifin
Editor: Elma Gloria Stevani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved