Berita Bangkalan

Universitas Trunojoyo Madura Tawarkan Riset Unggulan Atasi Ketergantungan Garam Impor

Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mendorong pemerintah untuk mengkaji ulang rencana impor garam sebanyak 3,07 ton pada tahun ini.

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Elma Gloria Stevani
TRIBUNMADURA.COM/AHMAD FAISOL
Rektor UTM Dr Drs EC Muh Syarif mengkritisi rencana pemerintah terkait impor garam melalui Press Release yang digelar di Lantai V Gedung Rektorat UTM, Rabu (24/3/2021). 

Reporter: Ahmad Faisol| Editor: Elma Gloria Stevani

TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN – Sebagai kampus riset dan tekhnologi berbasis klaster, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mendorong pemerintah untuk mengkaji ulang rencana impor garam sebanyak 3,07 ton pada tahun ini.

UTM berpendapat, seharusnya pemerintah terus membangun kekuatan petambak nasional secara berkelanjutan demi tercapainya Indonesia Berdaulat Garam.

Rektor UTM Dr Drs EC Muh Syarif  mengungkapkan, pihaknya memberikan beberapa catatan dan pandangan yang perlu dijadikan pertimbangan oleh pemerintah atas kebijakan pergaraman nasional.

“Pemerintah perlu mengkaji ulang keputusan terkait impor garam dengan mempertimbangkan beberapa faktor, terutama faktor kesejahteraan petambak garam lokal,” ungkap Muh Syarif dalam Press Release di Lantai V Gedung Rektorat UTM, Rabu (24/3/2021).

Sebelumnya, melalui rapat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 25 Januari 2021, pemerintah memutuskan untuk meningkatkan jumlah impor garam dari angka 2,7 juta ton di tahun 2020 menjadi sebesar 3,07 ton pada tahun 2021.

Baca juga: Resmi Bercerai dengan Ayus Sabyan, Ririe Fairus Masih Diberi Nafkah: Saya Minta yang Terbaik Saja

Baca juga: KC BPJS Ketenagakerjaan Pamekasan Sosialisasi Program BPJAMSOSTEK ke Pengurus dan Pekerja Koperasi

Baca juga: Chord Gitar dan Lirik Lagu Yang Terdalam Peterpan Beserta Chordnya, Mudah Banget Dimainkan Lho!

Baca juga: Simpan Sabu di Kemasan Minuman Berenergi, Pria Sumenep Diamankan Polisi saat Hendak Pesta Narkoba

Alasan pemerintah kembali melakukan impor garam didsasarkan atas belum tercukupinya  produksi garam nasional untuk menjawab kebutuhan garam industri.

 “Diperlukan transparansi Rencana Alokasi Impor Garam serta upaya pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas produksi garam rakyat secara berkelanjutan,” tegas Muh Syarif yang juga sebagai Pembina Himpunan Masyarakat Petambak Garam (HMPG) Jatim itu.

Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Timur (Jatim) menyebutkan, stok garam di gudang-gudang garam di Jatim saat ini mencapai angka 2,9 juta ton.

DKP Jatim mencatat, garam kualitas produksi (KP) 1 mendominasi dengan jumlah sekitar 2,7 juta ton atau 94 persen. Disusul garam KP 2 sebesar 152.265 ton (5,2 persen) dan garam KP3 sebanyak 15.511 ton (5 persen).

Muh Syarif mengaku prihatin atas rencana pemerintah untuk mengimpor garam krosok. Menurutnya, diperlukan penanganan yang lebih optimal untuk menggali, mengembangkan, dan mamjukan indsutri pergaraman rakyat.

“Para petambak garam Indonesia telah mampu memproduksi garam berkualitas tinggi untuk kebutuhan garam industri. Bahkan ketika musim hujan, mereka mampu memproduksi garam dengan jumlah ratusan ton,” pungkas Syarif.

Untuk menyelesaikan persoalan garam di Indonesia, PUI IPTEK Garam Universitas Trunojoyo Madura memberikan rekomendasi, antara lain;  Satu, Peningkatan Produksi Garam Rakyat. Di mana saat ini tambak garam produktif di Indoensia sekitar 24.000 hektare.

Jika ditingkatkan produksinya dari 100 Ton per hektar menjadi 200 Ton per hektar, maka produksi nasional menjadi 4.8 juta ton per tahun. Sehingga masalah pergaraman nasional terselesaikan dengan baik.

Dua, Peningkatan Kualitas Garam Rakyat. Tekhnologi peningkatan kualitas garam rakyat bertujuan agar garam rakyat bisa diterima oleh pasar.  Sehingga garam rakyat mampu bersaing secara kualitas dan mampu mendukung industri yang membutuhkan garam kualitas industri.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved