Berita Jawa Timur
Indonesia Terancam Kembali Lalui Ramadan di Tengah Pandemi, MUI Jatim Tunggu Keputusan Pemerintah
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menunggu keputusan pemerintah terkait gelaran salat Tarawih dan tadarus saat Bulan Ramadan.
Penulis: Syamsul Arifin | Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
Reporter ; Syamsul Arifin | Editor: Ayu Mufidah KS
TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Masyarakat Indonesia terancam kembali menjalani bulan puasa Ramadan saat masa pandemi Covid-19.
Tahun ini bukan kali pertama umat muslim di Indonesia menghabiskan Ramadan saat masa pandemi.
Hal ini juga dirasakan umat muslim di Indonesia, bahkan dunia pada tahun lalu.
Baca juga: Gubernur Khofifah Minta Bulog Tingkatkan Serapan Beras Petani hingga 2.000 Ton Perhari, Ingatkan HPP
Baca juga: Bolehkah Utang Puasa Orang Meninggal Diganti Orang yang Masih Hidup, Begini Kata Ustaz Abdul Somad
Baca juga: BERITA MADURA TERPOPULER: Rencana Penghapusan TPP ASN Pamekasan hingga Janin Korban Mutilasi
Pandemi Covid-19 dirasakan betul mempengaruhi sedikit banyak kegiatan ibadah saat Ramadan.
Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, KH Makruf Chozin mengatakan, pihaknya menunggu keputusan pemerintah terkait gelaran salat Tarawih dan tadarus nanti.
Yang pasti, KH Makruf Chozin mengajak masyarakat untuk menunggu keputusan itu terlebih dahulu.
"Kami lihat keputusan pemerintah terlebih dahulu," terangnya, Jumat (26/3/2021).
Sebab, saat ini pemerintah masih menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro.
Tak hanya itu pemerintah juga giat memasifkan vaksinasi.
"Apakah nanti Ramadan itu tarawihnya secara serentak di masjid-masjid, atau tadarusan atau salat Idul Fitrinya seperti sebagaimana sebelum pandemi," lanjutnya.
Pihaknya akan menunggu keputusan dari pemerintah pusat maupun provinsi.
MUI Jatim tetap berpesan supaya masyarakat mematuhi protokol kesehatan. Mengingat kasus penambahan terkonfirmasi positif tiap harinya masih terus ada.
"MUI akan bersinergi dengan pemerintah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait dengan kondisi yang ada," tandas Kiai Makruf.