Virus Corona di Bangkalan

Muncul Fenomena Kematian Beruntun di Kecamatan Arosbaya Bangkalan, 1 Rumah Ada Dua Orang Meninggal

Belasan warga di satu kampung di Bangkalan meninggal dunia secara beruntun. Satu rumah bisa dua anggota keluarga yang meninggal.

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
TRIBUNMADURA.COM/AHMAD FAISOL
Anggota TNI/Polri melakukan penyemprotan cairan disinfektan di rumah-rumah warga di Kecamatan Arosbaya, Bangkalan, Jumat (11/6//2021) 

TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN – Lonjakan kasus Covid-19 di empat kecamatan di Kabupaten Bangkalan menjadi perhatian nasional selama dua pekan terakhir.

Keempat kecamatan di Kabupaten Bangkalan yang mengalami lonjakan kasus Covid-19 yakni, Kecamatan Arosbaya, Kota, Klampis, dan Kecamatan Geger.

Sejumlah pejabat tinggi mulai dari tingkat daerah, provinsi, hingga pusat melakukan visitasi ke Kabupaten Bangkalan.

Lantas seperti apa kondisi masyarakat, khususnya di Kecamatan Arosbaya yang disebut para pejabat tinggi sebagai episentrum penyebaran Covid-19?

Edi Kur (46), warga Kampung Pandien Selatan, Desa Arosbaya, Kecamatan Arosbaya menuturkan, masyarakat di Kecamatan Arosbaya kini diselimuti kekhawatiran atas fenomena kematian secara beruntun.

“Di kampung saya dan kampung sebelah, sekitar 12 orang meninggal. Itu meninggalnya belum tentu karena Covid-19," tutur Edi kepada Surya ( grup TribunMadura.com ) melalui sambungan seluler, Jumat (11/6/2021) malam.

Baca juga: Kenaikan Kasus Covid-19 di Bangkalan Terjadi 14 Hari setelah Lebaran, Klaster Keluarga Mendominasi

"Namun seumur saya hingga berusia 46 tahun ini, belum pernah mengalami kejadian kematian secara beruntun dalam jumlah lumayan (banyak),” sambung dia.

Ia menjelaskan, rentang waktu dan jarak tempat tinggal antara satu warga yang meninggal dengan warga lain yang meninggal di kampungnya hampir berdekatan.

Bahkan, lanjut Edi, satu rumah ada yang dua orang meninggal, ibunya malam ini dan keesokan harinya anak perempuannya.

“Ada juga hari ini si A dan lusa pamannya, ada juga yang tetangga kanan-kiri dan depan rumah dalam rentang waktu 1-2 hari. Sekali lagi, itu belum dipastikan karena corona," katanya.

"Namun muncul kekhawatiran ketika ada orang meninggal, warga di sekitarnya harus siap-siap. Paman saya sampai memilih tutup toko hingga lima hari ini karena ada warga meninggal,” jelasnya.

Baca juga: Klaster Madura No 2 Terbanyak yang Dirawat di RS Lapangan Indrapura, Ini Daftar Klaster Paling Atas

Edi mengibaratkan, Desa Tengket dan Desa Arosbaya adalah Kejadian Luar Biasa (KLB) Covid-19.

Kondisinya semakin membuat Edi mengeluas dada karena tidak adanya layanan bidan desa dan dokter praktek sudah tidak buka karena takut.

Suasana pasar pun lengang, tidak seramai sebelumnya.

“Begitu ada orang sakit dan meninggal, muncul perasaan waswas yang mau memandikan (jenazah). Kasihan karena ini menjadi tugas para kiai kampung, sementara mereka tidak punya APD (Alat Pelindung Diri). Gelaran tahlil pun mulai jarang dihadiri banyak orang,” ujarnya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved