Wabah Virus Corona

Apa Beda Virus Covid-19 Varian Delta dengan Delta Plus? Ini Penjelasan Gejala dan Cara Pencegahannya

Virus Covid-19 varian Delta Plus telah ditemukan di Indonesia. Lantas, apa perbedaannya dengan varian Delta yang sebelumnya telah dikenal?

UNSPLASH/fusion_medical_animation
ILUSTRASI - Varian Delta Plus masih erat dengan varian Delta yang tingkat penyebarannya lebih cepat dibanding virus corona orisinal. 

TRIBUNMADURA.COM - Virus corona varian Delta Plus telah ditemukan di Indonesia. Lantas, apa perbedaannya dengan varian Delta yang sebelumnya telah dikenal?

Direktur Lembaga Biomolekuler Eijkman Amin Subandrio mengatakan varian Delta Plus ini secara umum sifatnya sama dengan varian Delta yang biasa.

Kedua varian ini memang sama-sama lebih menular.

"Sifat-sifatnya sama yang kita bicarakan varian delta ini, ada empat sifatnya."

"Pertama, lebih menular, kedua, mungkin sulit didiagnosis oleh PCR."

"Ketiga, mungkin menyebabkan gambaran klinis yang berbeda, baik morbiditasnya atau mortalitasnya," kata Amin, dikutip dari tayangan Sapa Indonesia Pagi Kompas TV, Kamis (29/7/2021).

Sifat-sifat itu lah yang membuat varian ini lolos dari anti bodi penyintas Covid-19 dan orang-orang yang telah divaksinasi.

Kepala LBM Eijkman Amin Subandrio di Kantor BNPB, Jakarta, Jumat (3/4/2020)
Kepala LBM Eijkman Amin Subandrio di Kantor BNPB, Jakarta, Jumat (3/4/2020) (Dok. BNPB)

"Tidak semua yang terinfeksi Delta ini (gejala) berat, banyak yang ringan," imbuhnya.

Lalu, Amin juga menjelaskan perbedaan dari varian Delta dengan Delta Plus.

Penambahan kata Plus itu karena adanya tambahan satu mutasi, yakni K417N, yang membuat perubahan struktur dan fungsi dari virus varian Delta biasa.

"Itu menyebabkan perubahan struktur dan fungsi dari virusnya. Secara umum, sifatnya masih sama seperti Delta, yang mana  lebih menular dari Alpha," tutur Amin.

Amin melanjutkan, bahwa vaksin yang tersedia Indonesia ini masih bisa efektif untuk menangkal varian kedua-duanya itu.

"Vaksin-vaksin yang sudah tersedia, sekalipun ada penurunan efikasi 10-20 persen, tapi efikasinya masih di atas 50 persen."

"Pedomannya WHO, selama vaksin memiliki efikasi lebih dari 50 persen masih bisa dipergunakan," pungkasnya.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved