Berita Pamekasan
Manfaatkan Perpanjangan PPKM, Nenek di Pamekasan Wariskan Budaya Membatik Pakai Canting pada Cucunya
Budaya membatik di Kabupaten berjuluk 'Bumi Gerbang Salam ini', menjadi tradisi turun temurun untuk terus dilestarikan.
Penulis: Kuswanto Ferdian | Editor: Aqwamit Torik
Pengamatan Atidah, saat ini pembelajaran budaya membatik bisa dikatakan punah.
Apalagi, praktik membatik secara langsung sudah sangat jarang diterapkan di sejumlah sekolah.
"Sehingga rasa kecintaan anak terhadap budaya peninggalan nenek moyang kita mulai hilang, dan rata-rata anak sekarang sekolahnya langsung ke YouTube dan Google," ungkapnya.
Sementara itu, Indy Zakiya Abdi, cucu Atidah, merasa senang mendapatkan pelajaran membatik dari neneknya.
Kata dia, belajar membatik seperti bermain jual-jualan.
"Masa Pandemi Covid-19 ini diisi oleh kegiatan belajar membatik ke nenek saya," kata Indy.
Siswi yang masih duduk di bangku kelas 6 SD itu mengaku malas saat awal-awal belajar membatik.
Apalagi saat memegang canting batik yang sangat kecil yang terbilang sangat susah memegangnya.
Namun berkat ketekunan dan ketelatenan neneknya, Indy merasa termotivasi untuk ikut giat belajar membatik.
"Awalnya agak malas karena sulit cara belajar apalagi cara memegang cantingnya itu, yang penting bagi saya tahu bagaimana proses membatik itu, dan tahu kalau batik warisan budaya nenek moyang kita," tutupnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/madura/foto/bank/originals/atidah-saat-mengajarkan-cucunya-membatik-di-rumahnya-dusun-gunung-1-pamekasan.jpg)