Berita Pamekasan
Manfaatkan Perpanjangan PPKM, Nenek di Pamekasan Wariskan Budaya Membatik Pakai Canting pada Cucunya
Budaya membatik di Kabupaten berjuluk 'Bumi Gerbang Salam ini', menjadi tradisi turun temurun untuk terus dilestarikan.
Penulis: Kuswanto Ferdian | Editor: Aqwamit Torik
Laporan Wartawan TribunMadura.com, Kuswanto Ferdian
TRIBUNMADURA.COM, PAMEKASAN - Kabupaten Pamekasan, Madura, dikenal sebagai 'Kota Batik'.
Tak heran, jika di setiap kampung atau desa di Pamekasan, pasti terdapat masyarakat yang lihai membatik menggunakan canting batik.
Budaya membatik di Kabupaten berjuluk 'Bumi Gerbang Salam ini', menjadi tradisi turun temurun untuk terus dilestarikan.
Bahkan, sebagian orang tua hingga sesepuh di Pamekasan mengajarkan anak cucunya untuk membatik.
Seperti halnya yang dilakukan oleh Atidah.
Nenek berusia 65 tahun ini terlihat telaten mengajari cucunya membatik.
Atidah mengaku sengaja memberikan pelatihan membatik kepada cucunya supaya bisa melestarikan budaya membatik di masa depan.
Menurut dia, kini sudah jarang orang tua yang mengajarkan anak-anaknya untuk mencintai budaya membatik.
Penyebabnya, karena faktor kecanggihan teknologi dan faktor daya tarik anak untuk belajar membatik.
"Diperpanjangnya masa PPKM ini, saya manfaatkan untuk memberikan pelatihan keterampilan membatik pakai canting batik kepada cucu saya agar lebih mencintai budaya membatik sejak dini," kata Atidah kepada TribunMadura.com, Selasa (17/8/2021).
Atidah juga mejelaskan, saat ini cucunya sedang melakukan sekolah melalui sistem daring, sehingga banyak berdiam di rumah.
Di sela-sela waktu berdiam diri itulah, Atidah memberikan pelajaran tambahan untuk cucunya tentang keterampilan membatik.
"Tujuan saya, anak cucu kesayangan saya ini, kedepannya bisa paham apa itu batik dan bagaimana proses pembuatannya," inginnya.
Nenek yang tinggal di Desa Larangan Badung ini berharap, budaya membatik bisa menjadi pelajaran ekstra di setiap sekolah, seperti halnya ekstrakurikuler Pramuka dan lainnya.
Pengamatan Atidah, saat ini pembelajaran budaya membatik bisa dikatakan punah.
Apalagi, praktik membatik secara langsung sudah sangat jarang diterapkan di sejumlah sekolah.
"Sehingga rasa kecintaan anak terhadap budaya peninggalan nenek moyang kita mulai hilang, dan rata-rata anak sekarang sekolahnya langsung ke YouTube dan Google," ungkapnya.
Sementara itu, Indy Zakiya Abdi, cucu Atidah, merasa senang mendapatkan pelajaran membatik dari neneknya.
Kata dia, belajar membatik seperti bermain jual-jualan.
"Masa Pandemi Covid-19 ini diisi oleh kegiatan belajar membatik ke nenek saya," kata Indy.
Siswi yang masih duduk di bangku kelas 6 SD itu mengaku malas saat awal-awal belajar membatik.
Apalagi saat memegang canting batik yang sangat kecil yang terbilang sangat susah memegangnya.
Namun berkat ketekunan dan ketelatenan neneknya, Indy merasa termotivasi untuk ikut giat belajar membatik.
"Awalnya agak malas karena sulit cara belajar apalagi cara memegang cantingnya itu, yang penting bagi saya tahu bagaimana proses membatik itu, dan tahu kalau batik warisan budaya nenek moyang kita," tutupnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/madura/foto/bank/originals/atidah-saat-mengajarkan-cucunya-membatik-di-rumahnya-dusun-gunung-1-pamekasan.jpg)