Breaking News:

Berita Jawa Timur

Catatan Kemenkumham, Sebanyak 7.909 WNA Huni Provinsi Jatim Mayoritas dari Wilayah Ini

Jumlah terbanyak berasal dari Tiongkok, yakni 1.409 orang, kemudian, Malaysia 831 orang dan Korea Selatan 534 orang

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Samsul Arifin
TRIBUNMADURA.COM/ALI HAFIDZ SYAHBANA
Kakanwil Kemenkumham Jatim, Krismono saat berkunjung ke Sumenep 

TRIBUNMDURA.COM, SURABAYA - Terdapat 7.909 warga negara asing (WNA) di Jatim. Paling banyak berasal dari Tiongkok, sedangkan yang berstatus pengungsi, WNA asal Afghanistan mendominasi.

Tak pelak, dari data jumlah tersebut, Provinsi Jatim termasuk menjadi satu diantara destinasi bagi orang asing.

Kepala Kanwil Kemenkumham Jatim Krismono mengatakan, data jumlah WNA di Jatim itu, berasal dari 123 negara berbeda. 

Jumlah terbanyak berasal dari Tiongkok, yakni 1.409 orang. Kemudian, Malaysia 831 orang, dan Korea Selatan 534 orang. 

“Keberadaannya paling banyak di daerah Malang dan Surabaya,” ujar Krismono dalam siaran persnya, pada Minggu (24/10/2021).

Mereka datang dengan berbagai jenis izin keperluan. Mulai dari menggunakan izin tinggal kunjungan (ITK), izin tinggal terbatas (ITAS), maupun izin tinggal tetap (ITAP). 

Malang, lanjut Krismono, dipilih karena selama ini menjadi rujukan bagi pelajar asing. Sedangkan Surabaya banyak dikunjungi oleh pebisnis asing. 

Baca juga: Kreatif, Tes SKD CPNS Kemenkumham Jatim Dikawal Ala Squid Game

“Untuk daerah Ponorogo dan Kediri kebanyakan adalah santri internasional yang banyak menimba ilmu di Ponpes Gontor, maupun Al Fatah Temboro,” jelasnya.

Tidak hanya itu saja. Krismono mengungkapkan, ada juga orang asing yang statusnya sebagai pengungsi (Refugee), totalnya mencapai 396 orang dari 14 negara berbeda. 

Mereka tersebar di dua penampungan, yakni di Akomodasi Pasar Puspa Agro berjumlah 322 orang, dan Akomodasi Green Bamboo berjumlah 40 orang. Sementara, sisanya adalah pengungsi mandiri.

“Lebih dari separuhnya adalah pengungsi dari Afghanistan,” jelasnya.

Oleh karena itu, Krismono mengatakan, pihaknya saat ini memberikan perhatian dan pengawasan lebih terhadap para pengungsi tersebut. 

Karena melihat situasi politik di Timur Tengah, khususnya Afghanistan yang masih belum sepenuhnya kondusif. 

“Rata-rata mereka ini terdampar setelah ditolak ketika akan mencari suaka ke Australia,” pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved