Mukatamar NU
PCNU Kota Surabaya Bawa Rekomendasi Pilih Ketua dan Rais Aam Lewat Penggunaan Sistem Ahwa
Di antara rekomendasi yang dibawa adalah penggunaan sistem Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) dalam pemilihan Rais Aam dan Ketua Tanfidziyah atau Ketum PBNU
Penulis: Bobby Koloway | Editor: Samsul Arifin
TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya ikut berangkat ke Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Lampung, Rabu-Kamis (22-23/12/2021). Mereka membawa sejumlah rekomendasi.
"Saat ini, kami sudah ada di Lampung. Rombongan juga terdiri atas pengurus harian Syuriah maupun Tanfidziyah," kata Ketua PCNU Surabaya, KH Muhibbin Zuhri, Selasa (21/12/2021) dihubungi dari Surabaya.
Di antara rekomendasi yang dibawa adalah penggunaan sistem Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) dalam pemilihan Rais Aam dan Ketua Tanfidziyah atau Ketua Umum PBNU. Yakni, pemilihan Rais Aam dan Ketua Tanfidziyah atau Ketua Umum PBNU dipercayakan kepada 9 Kiai sepuh yang nantinya tergabung sebagai anggota Ahwa.
Sehingga, tak ada pemilihan secara langsung oleh pemilik suara (one man one vote). "Kami memegang adab atau etika dalam muktamar," kata Muhibbin.
"Sehingga, tidak seperti pilkada atau pilpres. Namun, kita percayakan kepada Masyayikh yang kita percaya untuk menjadi Ahwa," tegasnya.
Ia optimistis para Ahwa telah memiliki sejumlah figur yang layak dipilih untuk memimpin NU ke depan. "Siapa dan latar belakang mana? Kami percayakan kepada beliau-beliau yang lebih mengerti soal ini," katanya.
Baca juga: Ratusan Muktamirin PWNU Jatim Berangkat Menuju Muktamar NU di Lampung Melalui Jalur Darat dan Udara
Ahwa juga telah memiliki sejumlah nama yang bisa memenuhi sejumlah kriteria. "Misalnya, yang punya kompetensi, mengerti dan memiliki kredibilitas baik di tengah masyarakat, dan memiliki suksestori dalam memimpin komunitas, terutama ditengah jam'iyyah. Beliau-beliau ini telah memiliki pandangan yang lebih luas," katanya.
Tak hanya soal Ahwa, pihaknya juga membawa rekomendasi soal "NU Kota". "Dari Surabaya, Insha Allah akan kami perjuangkan menjadi aspirasi muktamar," ujarnya.
Ia mengaku telah membuat road map agar NU kompatibel dengan kehidupan kota. Menurutnya, terdapat beberapa hal yang menjadi penekanan.
Di antaranya, dengan cara memperkuat basis. Menurut dia, ada basis yang tidak boleh ditinggalkan dan harus terus dirawat.
Basis NU Surabaya, kata Muhibbin, yakni "3M". Yakni, masjid/mushala, masdrasah, dan majelis.
Ia menjelaskan, masjid yang sejak awal didirikan dengan tradisi NU diharapkan tidak berubah menjadi amaliyah lain. Sehingga anak muda NU harus rajin menjaga masjidnya.
Kemudian, madrasah diharapkan selalu bersinergi dengan pemerintah agar ada kebijakan peningkatan kualitas. Demikian pula dengan majelis sebagai salah satu konsolidasi kultural untuk menyampaikan cara beragama yang benar.
"Kepada seluruh pimpinan NU dan badan otonom agar merawat ketiga basis kultural ini. Kalau semua itu sudah dirawat baik berarti NU melangkah dan hadir di tengah-tengah masyarakat. Hadir bukan berarti secara fisik, tapi menjawab kebutuhan semuanya," tambah Muhibbin.
Di kawasan perkotaan, NU harus kompatibel dengan kondisi masyarakat. "Kebetulan, masyarakat di perkotaan khas," katanya.