Breaking News:

Gunung Semeru Erupsi

Dampak Erupsi Gunung Semeru, Monyet Liar Turun Jalan Cari Makanan akibat Hutan Rusak

Fenomena ini tentu saja menjadi perhatian masyarakat, Terutama para pekerja yang sedang merancang pembangunan jembatan

Penulis: Tony Hermawan | Editor: Samsul Arifin
TRIBUNMADURA.COM/TONY HERMAWAN
Monyet liar dari hutan bermunculan di kawasan jalur perbukitan Piket Nol, Lumajang, untuk mencari makanan. 

TRIBUNMADURA.COM, LUMAJANG - Kerusakan hutan akibat erupsi Gunung Semeru membuat sejumlah monyet liar bermunculan di kawasan jalur perbukitan Piket Nol, Lumajang, Jawa Timur, pada Kamis (23/12) siang. 

Fenomena ini tentu saja menjadi perhatian masyarakat. Terutama para pekerja yang sedang merancang pembangunan jembatan gantung, di sekitar Gladak Perak. 

Monyet-monyet tersebut turun ke jalanan diduga karena lapar. Para pekerja pun akhirnya memberikan nasi bungkus kepada sekelompok monyet. 

"Setelah kejadian erupsi baru sekarang monyet-monyet ini turun. Mungkin di atas sudah gak ada yang bisa dimakan," kata Sucipto.

Sucipto mengatakan, sebelum Gunung Semeru terjadi erupsi, memang monyet-monyet sering berkeliaran di sekitar area Gladak Perak

Akan tetapi, kali ini tingkah monyet-monyet lebih jinak. Monyet-monyet itu mendekati manusia, seakan memberikan isyarat bahwa tengah kelaparan.

Baca juga: Lereng Semeru Diguyur Hujan, Warga Sumberwuluh Selamatkan Diri, Takut Banjir Lahar Datang Lagi

"Kalau monyet di Gladak Perak memang ada, tapi kalau ada manusia dia lari. Kalau sekarang malah semua turun mendekat pasti monyet-monyet ini kelaparan," ujarnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai Besar (BB) Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Novita Kusuma Wardani menyebut, memang akibat erupsi Gunung Semeru ada sekitar 1.268 hektar lahan hutan rusak. Kawasan itu meliputi zona rimba, inti, maupun pemukiman.

Tiga zona itu banyak sekali keberadaan  satwa-satwa liar. Pihaknya saat ini memang tengah berusaha menyelematkan satwa. Namun, upaya itu belum bisa dilakukan secara maksimal karena kondisi di lapangan masih berbahaya untuk didekati.

"Di zona itu ada landak, makaka, babi hutan, dan jenis lain. Kami waktu evakuasi sempat menyelamatkan landak. Tapi yang lain belum sempat kami temukan. Mudah-mudahan satwa sempat menyelamatkan diri ke tempat lebih aman ketika terjadi erupsi," pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved