Sejarah
Bukti Kerajaan Mataram Kuno, Kerajaan Besar di Indonesia, Arsitektur dan Karya Seninya Luar Biasa
Kerajaan yang juga bernama kerajaan Medang ini dulunya dikuasai oleh tiga dinasti: Sanjaya, Syailendra dan Isyana.
Faktor keempat yaitu motif keagamaan dan ekonomi, termasuk tidak adanya pelabuhan yang membuat Kerajaan Mataram Kuno sulit menjalin kerja sama dengan kerajaan lain.
Sumber sejarah Mataram Kuno
Sumber sejarah kerajaan ini meliputi prasasti, candi, kitab Cerita Parahyangan (Sejarah Pasundan) dan berita dari China.
Prasastinya meliputi Prasasti Canggal yang ada di Candi Gunung Wukir, Dusun Canggal, desa Kadiluwih, kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah.
Prasasti ini ditulis dengan bahasa Sansekerta dan huruf Palawa, tahun 732 M.
Isi prasasti adalah mengenai pernyataan diri Raja Sanjaya sebagai seorang penguasa universal dari Kerajaan Mataram Kuno.
Baca juga: Senjata Unik Milik Gajah Mada Selain Keris Sakti, Bikin Musuhnya Majapahit Jadi Ngeri
Tertulis mengenai pendirian lingga atau simbol bagai Dewa Siwa di desa Kunjarakunja oleh Sanjaya.
Diceritakan juga jika yang menjadi raja awalnya adalah Sanna, lalu digantikan oleh Sanjaya anak Sannaha, saudara perempuan Sanna.
Kunjarakunja dapat juga diartikan "tanah dari pertapaan Kunjara" yang dikenal sebagai tempat pertapaan Resi Agastya, maharesi Hindu yang dipuja di India selatan.
Epik Ramayana menceritakan jika Rama, Sinta, dan Laksmana mengunjungi pertapaan Agastya di gunung Kunjara.
Terjemahan bebas isi prasasti adalah sebagai berikut:
Bait 1: Pembangunan lingga oleh Raja Sanjaya di atas gunung
Bait 2-6: Pujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Brahma, dan Dewa Wisnu
Bait 7: Pulau Jawa yang sangat makmur, kaya akan tambang emas dan banyak menghasilkan padi. Di pulau itu didirikan candi Siwa demi kebahagiaan penduduk dengan bantuan dari penduduk Kunjarakunjadesa
Bait 8-9: Pulau Jawa yang dahulu diperintah oleh raja Sanna, yang sangat bijaksana, adil dalam tindakannya, perwira dalam peperangan, bermurah hati kepada rakyatnya. Ketika wafat Negara berkabung, sedih kehilangan pelindung.