Wabah Virus Corona
Hasil Penelitian Varian Omicron, Kurangi Akurasi Alat Rapid Antigen, WHO Sarankan Alat Deteksi Lain
Virus corona varian Omicron merupakan varian tingkat mutasi tinggi pada gen bagian S atau Spike yang berdampak kemampuan deteksi alat uji diagnostik.
Penulis: Ayu Mufidah | Editor: Mujib Anwar
"Penting untuk diingat, tes NAAT yang gagal mendeteksi gen S tersebut belum tentu varian Omicron. Dan tetap harus dilanjutkan ke tes WGS," pungkasnya.
Sementara itu, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan, gejala paling banyak yang dialami penderita varian Omicron.
“Mayoritas (penularan) masih didominasi pelaku perjalanan luar negeri," kata dr Nadia, dikutip dari kemkes.go.id.
"Dari hasil pemantauan, sebagian besar kondisinya ringan dan tanpa gejala. Gejala paling banyak adalah batuk (49 persen) dan pilek (27 persen),” sambung dia.
Selain itu, Kemenkes juga mendorong daerah untuk memperkuat kegiatan 3T (Testing, Tracing, Treatment), aktif melakukan pemantauan apabila ditemukan klaster-klaster baru Covid-19 dan segera melaporkan dan berkoordinasi dengan pusat apabila ditemukan kasus konfirmasi Omicron di wilayahnya.
“Poin utama dari aturan ini untuk memperkuat koordinasi pusat dan daerah serta fasyankes dalam menghadapi ancaman penularan Omicron. Mengingat dalam beberapa waktu terakhir kasus transmisi lokal terus meningkat," ujar dr Nadia.
Kesiapan daerah dalam merespons penyebaran Omicron menjadi sangat penting agar tidak menimbulkan cluster baru penularan Covid-19.
Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan
Selain itu, dr Nadia juga menekankan kewaspadaan individu untuk terus ditingkatkan guna menghindari potensi penularan Omicron.
Protokol kesehatan 5M dan vaksinasi harus berjalan beriringan sebagai kunci untuk melindungi diri dan orang sekitar dari penularan Omicron.
( TribunMadura.com / Ayu Mufidah KS ) ( Tribunnews.com / Aisyah Nursyamsi ) ( Tribunnews.com / Katarina Retri Yudita )