Sejarah

Kisah Pergerakan PKI di Madiun Sebelum G30S/PKI Meletus, ada Tokoh Sentral Sebelum Datangnya Muso

Salah satu yang menjadi bukti adanya pemberontakan PKI di Madiun adalah Monumen Kresek yang berlokasi di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Madiun

TribunMadura.com/Sofyan Arif Candra Sakti
Patung Muso yang hendak mengeksekusi Kiai Husen seorang Tokoh Agama dan Anggota DPRD Kabupaten Madiun 


Soemarsono mengungsi ke Madiun setelah dipukul mundur Belanda dari Surabaya.


Begitu juga sejumlah daerah lain yang bisa dikuasai oleh NICA (Nederlandsch Indische Civiele Administratie).


"Madiun menjadi pusat pergerakan revolusioner bersama Yogyakarta dan Surakarta karena daerah lain dikuasai Belanda," lanjutnya.


Karena menjadi pusat pergerakan revolusioner, Madiun menjadi dinamis, dan orang - orang bisa masuk ke Madiun dengan berbagai latar belakang politik dan kepentingan.


"Terbentuk lah kultur revolusioner. Banyak pemuda yang aktif dalam pergerakan. Dari berbagai elemen pergerakan, yang paling unggul adalah pengikut Amir Syarifuddin yaitu organisasi kepemudaan Pesindo," jelas Septian.


Salah satu tolok ukur keberhasilan Pesindo di Madiun adalah adanya Marx House atau rumah marxis untuk pengkaderan rumah sosialis yang dibentuk Pesindo di Madiun pada tahun 1946-1947.


"Pesindo ini adalah tulang punggung pergerakan PKI di Madiun, Pesindo dikenal memiliki persenjataan yang lengkap dan dirawat oleh Amir Syarifuddin yang saat itu menjadi menteri pertahanan dan perdana menteri," jelas Septian.


'Kekuatan' tersebut lah yang digunakan oleh Muso untuk melakukan pemberontakan pada tahun 1948 setelah mengambil alih PKI dari tangan Amir Syarifuddin.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved