Tragedi Kanjuruhan

Kesaksian Relawan Tragedi Kanjuruhan, Syok Lihat Jenazah Tergelak di Paving RS Hingga Tak Bisa Tidur

Menyayat hati kesaksian relawan Tragedi Kanjuruhan Malang shock lihat jenazah tergelak di paving halaman rumah sakit dan tak bisa tidur sampai kini.

Penulis: Mohammad Rifky Edgar | Editor: Mujib Anwar
Kolase Instagram dan TribunJatim.com/Kukuh Kurniawan
Ilustrasi - Benar-benar menyayat hati kesaksian relawan Tragedi Kanjuruhan Malang yang shock melihat jenazah tergelak di paving halaman rumah sakit dan sampai saat ini tak bisa tidur dengan nyeyak. 

Di Rumah Sakit Teja Husada, mereka menghitung ada 34 jenazah yang belum dievakuasi.

Kemudian, mereka bergegas untuk membawa jenazah tersebut ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan Kabupaten Malang.

"Total dari kami yang berangkat dari Malang Kota itu ada enam ambulans. Jadi di sini kami langsung mengevakuasi jenazah, agar cepat tertangani. Kalau masalah pendataan, jujur kami lemah. Kami hanya fokus agar bagaimana jenazah ini tertangani," ujarnya.

Dari jenazah yang dievakuasi tersebut, hampir 70 persen kata Babe berusia di bawah 18 tahun.

Kondisi jenazah kebanyakan utuh, dengan wajahnya yang membiru.

Beberapa jenazah juga mengeluarkan busa di mulutnya.

Hal ini membuat babe shock, dan mengaku tak bisa tidur nyenyak pasca insiden tersebut.

"Sampai sekarang saya belum bisa tidur nyenyak. Gimana ya, saya sampai tidak bisa berkata-kata. Karena hampir 70 persen jenazah usianya di bawah 18 tahun, masih seusia anak-anak saya," ucapnya.

Melihat kondisi tersebut, para relawan ini hanya fokus untuk mengevakuasi para korban dengan cepat.

Salah satunya ialah membentuk sistem, agar proses evakuasi berjalan cepat sesuai dengan prosedur yang ada.

"Sistem yang kami bangun ini berusaha mengambil komando untuk satu pintu, agar mekanisme sebelum diberikan kepada keluarga atau dari Wava menuju ke faskes yang lebih tinggi ke RSUD dan RSSA, terkomando," ucap Dhana Setiawan dari PSC 119 Kota Malang.

Dhana juga menyampaikan, masih banyak jenazah korban, yang tiba-tiba dibawa oleh teman, kerabat atau keluarga secara langsung, tanpa diidentifikasi dan di data.

"Jadi di awal kami belum datang itu sudah ada proses pengeluaran jenazah. Itu kita yang lemah datanya di situ," terangnya.

Dhana juga meminta kepada seluruh masyarakat yang menjadi korban, namun masih belum berobat ke rumah sakit, untuk melaporkannya ke posko yang ada di Balaikota Malang.

"Jika ada korban yang masih di rumah, takut atau khawatir ada pembiayaan ke rumah sakit bisa menghubungi posko yang ada di balai kota Malang, kota Batu dan Kabupaten Malang. Jangan takut, kalau masih ada gejala silahkan lapor saja," tandas Dhana Setiawan.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved