Berita Madura

Kisah Pengusaha Tas Tradisional di Sampang, Jatuh Bangun Hingga Bangkit Meski Diterpa Pandemi

Pria berusia (52) tersebut kini memiliki usaha tas tradisional dari bahan daur ulang berupa kulit jok mobil hingga mampu meraup keuntungan yang manis

Penulis: Hanggara Pratama | Editor: Aqwamit Torik
TribunMadura.com/Hanggara Pratama
Istri dari Slamet Tricahyo Widodo saat menjahit tas tradisional di kediamannya, Desa Patarongan, Kecamatan Torjun, Kabupaten Sampang, Madura, Rabu (2/10/2022) 

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Hanggara Pratama


TRIBUNMADURA.COM, SAMPANG – Meski memiliki keterbatasan fisik tidak bisa berjalan sempurna seperti orang pada umumnya, Slamet Tricahyo Widodo asal Desa Patarongan, Kecamatan Torjun, Kabupaten Sampang, Madura tidak pernah malu dan putus asa dalam berwirausaha demi mengumpulkan pundi-pundi uang guna memenuhi kebutuhan perekonomian keluarganya.


Atas kegigihannya dengan dibantu oleh sosok istri tercinta, Pria berusia (52) tersebut kini memiliki usaha tas tradisional dari bahan daur ulang berupa kulit jok mobil hingga mampu meraup keuntungan yang cukup senilai Rp. 2 juta perbulannya.


Bahkan, pria dengan lima orang anak dan tiga diantaranya masih duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA) itu mampu memberdayakan delapan orang yang tidak lain tetangganya sendiri untuk turut membantu memproduksi tas.

Baca juga: Sumringah Warga Desa Pandiyangan Sampang, Jalan Rusak Kini Mulus Telah Diperbaiki

Informasi lengkap dan menarik lainnya Berita Sampang dan Berita Madura di GoogleNews TribunMadura.com


Slamet Tricahyo Widodo menceritakan awal mula membuka usaha tas tradisional berangkat dari keikutsertaan pelatihan kerja paket menjahit yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Sampang di Balai Latihan Kerja (BLK) beberapa tahun lalu.


Di situlah, pengalaman menjahit mulai dimatangkan hingga dirinya berniat lebih serius di bidang pelatihannya dan mencoba untuk mengajukan bantuan alat jahit ke pemerintah daerah.


"Pada 2018 pengajuan bantuan alat jahit disetujui sebanyak tiga unit," ujarnya kepada TribunMadura.com, Rabu (2/11/2022).


Dengan begitu, dirinya mulai mengkonsep barang yang akan diperjualkan dan setelah menyesuaikan kondisi pemasaran di Kota Bahari, kerajinan tas dengan konsep tradisional pun dipilih untuk mempermudah menyasar para peminat atau pembeli.


Setelah berjalannya waktu hingga saat ini, Slamet Tricahyo Widodo telah memiliki sejumlah pelanggan seperti sejumlah toko mas karena mereka memesan sebuah tas kecil yang diperuntukkan sebagai bungkus saat ada konsumen membeli emas.


Selain itu beberapa tokoh agama dan masyarakat yang menjadi pelanggan, biasanya memesan tas untuk buah tangan kepada para undangan saat menggelar maulid nabi.


“Jadi saat masuk ke bulan Maulid Nabi menjadi momen bagi usaha saya untuk mendapatkan omset lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya,” terangnya.


Begitupun usahanya diberdayakan oleh pemerintah daerah, mengingat saat Pemkab Sampang menggelar kegiatan yang berkaitan dengan tas, selalu memesan terhadap para pengrajin tas di daerah sendiri.


“Pemerintah daerah berperan penuh terhadap usaha saya,” tandasnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved