Bocah SD Bacok Teman

BREAKING NEWS : Bocah SD Bacok Teman saat Kalah Main Bola, Tak Terima Kalah Bawa Nama Orang Tua

Sebab, salah satu dari pemainnya terluka parah akibat dibacok temannya sendiri, yang masih sama-sama di bawah umur

Penulis: Imam Taufiq | Editor: Samsul Arifin
TribunMadura.com/Imam Taufiq
Korban saat dijenguk di RSUD Ngudi Waluya, Wlingi karena menderita luka lengan akibat disabet sabit oleh teman bermain bolanya 

TRIBUNMADURA.COM, BLITAR - Bermain sepak bola bagi anak-anak di kampung itu hal biasa, apalagi bukan pertandingan untuk memperebutkan juara melainkan hanya permainan biasa.

Namun, di Kabupaten Blitar, sepak bola yang dilakukan sesama anak di bawah umur itu, malah berakhir menggegerkan warga.

Sebab, salah satu dari pemainnya terluka parah akibat dibacok temannya sendiri, yang masih sama-sama di bawah umur.

Yakni, Na (14) Bocah asal Desa/Kecamatan Gandusari ini mengalami luka bacok yang cukup parah di lengan kanannya akibat ditebas dengan sabit oleh Ga (11), bocah kelas 5 SD, yang satu kampung dengan korban.

Meski kasus itu terkait kenakalan anak-anak namun karena orangtua korban tidak terima kalau anaknya dibacok, lapor ke Polres Blitar.

Baca juga: Kasus Ledakan di Blitar, Polisi Naikkan Status Jadi Penyidikan, Bidik Pemasok Barang Petasan

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunMadura.com

"Sampai saat ini kami masih melakukan pemeriksaan-pemeriksaan dan belum melakukan tindakan pengamanan. Yang kami amankan, baru sabit dan baju koko korban," kata AKP Tika Puspitasari, Kasat Reskrim Polres Blitar, Minggu (12/3/2023).

Dari pemeriksaan saksi-saksi itu terkuak kalau kejadian itu hanya terjadi secara spontanitas atau tak ada penyebab lain, kecuali diawali saling ejek saat keduanya bermain sepak bola.

Kejadian itu sudah berlangsung pada Kamis (9/3/2023) sore lalu namun baru dilaporkan esuk harinya oleh orangtua korban, Jumat (10/3/2023) setelah menyadari luka bacok yang dialami anaknya cukup lebar dan dalam sehingga harus dijahit cukup banyak.

Bahkan, sampai Minggu (12/3/2023) siang ini, korban masih dirawat di RSUD Ngudi Waluya, Wlingi, untuk menjalani pemihan.

"Iya, memang demikian (itu dilaporkan orangtua korban sendiri)," ungkapnya.
Mereka bersama teman-teman lainnya, yang satu kampung bermain sepak bola. Itu berlangsung usai mereka mengaji bersama di sebuah pesantren yang ada di kampungnya sehingga jangan dibayangkan berpakaian seragam kaos olah raga.

Namun, mereka mengenakan pakaian mengaji dengan berbaju koko dan sebagian mengenakan sarung. Itu seperti sudah biasa dilakukan usai mengaji bersama, tak langsung pulang melainkan biasa bermain apa saja.

Namun, sore itu mereka bermain sepak bola di halaman pesantren, tempatnya mengaji bersama. 
"Habis mengaji. Namanya anak-anak ya begitu itu," tuturnya.

Entah dipicu masalah apa, di saat asyik bermain bola yang sudah biasa dilakukannya itu, mereka terlibat saling meledek. Mungkin, ada yang kalah pada permainan sepak bola itu sehingga diolok-olok.

Tak cukup hanya saling ledek, namanya anak-anak, mereka tak bisa mengontrol diri hingga akhirnya nama bapak mereka saling sebut. Mungkin, tak terima dengan nama bapaknya dibawa-bawa, Na, lari ke luar lapangan (halaman pesantren) lalu masuk ke arah dapur.

Tak disangka, ia datang kembali dengan sudah menenteng sabit. Dan, ia langsung menyerang korban, hingga akhirnya korban langsung ambruk dengan bersimbah darah.

Sebab, darah segar langsung mengucur dari lengan kanannya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved