Budaya Madura

Blater Jadi Ciri Khas Orang Madura, Punya Pengaruh Cukup Kuat, Apa Hubungannya Kiai dan Blater?

Dalam kehidupan masyarakat Madura, kaum blater merupakan suatu golongan sosial yang menjadi orientasi kepemimpinan masyarakat.

Editor: Ficca Ayu
TribunMadura.com
Mengenal apa itu blater Madura. 

TRIBUNMADURA.COM - Mengenal sejarah kemunculan blater yang merupakan ikon sosial masyarakat Madura.

Artikel ini dirangkum dari http://ejournal.iainmadura.ac.id.

Dalam kehidupan masyarakat Madura, kaum blater merupakan suatu golongan sosial yang menjadi orientasi kepemimpinan masyarakat.

Blater dapat menjadi pusat orientasi kepemimpinan masyarakat karena mereka memiliki keberanian dan kekebalan diri (kelebihan ilmu kanuragan), sehingga disegani oleh masyarakat.

Sebagai salah satu ikon sosial masyarakat Madura, blater tidak bisa dipisahkan dari lintasan sejarah yang melatarbelakangi kemunculannya.

Baca juga: Makna Lirik Lagu Madura Nangis Ateh Edy KA, Cipt Ahmed Habsy: Ngennes Ateh Buleh Mon Mikkerreh

Dunia keblateran yang dikenal sejak lama merupakan bagian dari fenomena yang menjadi ciri khas
masyarakat Madura.

Hal itu juga terjadi di berbagai daerah di Indonesia, dengan konteks sosio-historis yang berbeda pula.

Nama blater di Madura yang telah mencerminkan sebuah nama kelompok Jawara (jagoan), akan berubah nama (sebutan), ketika ikon sosial seperti blater berada di pulau lain seperti di tanah Jawa, Sunda, Sumatera, Makassar, dan lain sebagainya, namun secara esensial adalah sama.

Baca juga: Termasuk Dua Daerah Madura, Inilah 19 Kepala Daerah di Jawa Timur Bakal Akhiri Masa Jabatan di 2023

Blater merupakan kelompok sosial yang cukup berpengaruh di kalangan masyarakat Madura. Kelompok itu dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, seperti kepentingan politik dan kekuasaan.

Hubungan antara kiai dan kelompok blater biasanya cenderung bersifat simbiosis, saling membutuhkan, walaupun fungsi dan peranan sosial mereka antagonistik.

Tidak sedikit kiayi yang memiliki latar belakang sosial sebagai blater sehingga kadang-kadang perangai blaternya tetap muncul, sekalipun ia sudah menyandang simbol-simbol keagamaan Islam tersebut.

Salah satu tradisi atau kebiasaan masyarakat Madura, khususnya di daerah Kabupaten Sampang, yang sampai saat ini masih berlangsung adalah menyelenggarakan semacam pesta yang disebut to'oto' dan
remoh (sandur).

Baca Berita Madura lainnya

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunMadura.com

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved