Tokoh Madura

Mengenal Hoirur Rozikin, Anak Petani Garam di Sampang, Kegemaran Menulis Datang dari Rasa Gelisah

Buku pertama kali ditulis oleh Hoirur Rosikin berjudul 'Cakarawala Pembebasan', diterbitkan oleh Penerbit Kota Tua Malang pada tahun 2019.

Penulis: Hanggara Pratama | Editor: Ficca Ayu
TribunMadura.com/Hanggara Pratama
Hoirur Rosikin, seorang anak dari petani garam asal Desa Marparan, Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang, Madura, gemar menulis berawal dari rasa kegelisahan. 

TRIBUNMADURA.COM, SAMPANG - Kegelisahan saat berada di tanah rantau di tengah menjalani studi sarjana di salah satu kampus ternama Kota Malang, Jawa Timur menjadi alasan Hoirur Rosikin (24) memulai hobi menulisnya.

Di dalam karyanya, Pemuda asal Desa Marparan, Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang,  Madura itu gemar menulis buku tentang perjuangan, baik dalam sejarahnya hingga teori perjuangan.

Hal itu tidak terlepas dari aktivitasnya di kampus selama ini. Lebih aktif di gerakan sosial, penggagas diskusi Forum Wacana Kritis Malang (FWKM), juga sebagai kader salah satu gerakan mahasiswa Islam di Malang.

Buku pertama kali ditulis oleh Hoirur Rosikin berjudul 'Cakarawala Pembebasan', diterbitkan oleh Penerbit Kota Tua Malang pada tahun 2019 dan di tahun itu sempat dibedah sekaligus louncing bersama para aktivis Malang.

Baca juga: Blater Jadi Ciri Khas Orang Madura, Punya Pengaruh Cukup Kuat, Apa Hubungannya Kiai dan Blater?

Berselang beberapa tahun berikutnya, tepatnya pada 2022, buku 'Cakrawala Pembebasan' kembali diterbitkan dengan lebih memperkaya bahasa dan isi.

Buku dengan ketabalan 210 lembar itu memiliki isi tentang nilai teori idelisme dan nilai perjuangan sebagai Mahasiswa modern.

Menceritakan peran Mahasiswa Indonesia untuk melawan, dan menilai Kampus yang sekarang seperti tempat bisnis terbesar didalam lingkup pendidikan.

Kemudian, kembali dibedah di Kampung Inggris, Kabupaten Kediri, diselengarakan oleh Lembaga Bahasa Inggris di Pare sehingga banyak diminati oleh mahasiswa.

Tidak berhenti di sana, saat ini anak dari petani garam itu menulis buku yang berjudul Marxisme dan Revolusi, tentang teori-teori Materialisme.

Kemudian menulis buku berjudul Mengenal Tentang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Dijalan Kiri, dan buku Peran Perempuan dalam melihat fakta sosial yang terjadi dengan teori feminisme.

"Untuk saat ini, ke tiga buku itu masih dalam proses seleksi dipenerbit," kata Hoirur Rosikin, Senin (19/6/2023).

Baca juga: Pengrajin Pisau Kebanjiran Order Jelang Idul Adha, Pelanggan dari Madura Juga Mendominasi

Ia mengaku, memang sebuah rasa kegelisahan menjadi pemicu dirinya mulai menulis karena ia melihat gejolak ruh mahasiswa yang semakin hilang dan semakin tertutup oleh budaya modern, sehingga cita-cita reformasi yang selalu di sebut-sebut nyatanya semakin pudar.

Dengan begitu, ia menulis arti kegelisahan sebagai mahasiswa untuk terus menjaga nilai perubahan dengan pena dan perlawanan yang nyata dan menjunjung nilai Tridharma perguruan tinggi.

"Saya menulis buku berangkat dari kegelisahan, dengan fakta realitas sosial yang tak sesuai dengan cita cita, begitupun  berangkat dari buku yang pernah saya baca karya Eko Prasetyo berjudul, Bangkitlah Gerakan Mahasiswa," tuturnya. 

Menurutnya, menulis buku adalah suatu keabadian pikiran manusia dalam meninggalkan dirinya diatas bumi. Maka dari menulis buku, manusia akan terlihat nilai kejujuran dalam berfikir.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved