Kilas Balik

Pemain Film Pengkhianatan G30S/PKI Ungkap Alasan Soeharto Makamkan Soekarno di Blitar

Inilah alasan sebenarnya Soeharto makamkan Soekarno di Blitar. Soekarno bersama Mohammad Hatta merupakan orang yang membacakan naskah Proklamasi

|
Editor: Januar
Istimewa
Kolase Soeharto dan Soekarno 

"Ketika itu Bapak kan ngendhiko (mengatakan), saat Bung Karno bertanya kepada Bapak, aku iki arep mbok apakke (saya ini mau kamu apakan)?," ujar Amoroso, yang kembali menirukan ucapan Soeharto.

Mendapat pertanyaan dari Soekarno, Soeharto pun segera menjawabnya.

"Saya ini orang Jawa. Saya menganggap Bapak adalah bapak saya, sehingga prinsipnya adalah mikul dhuwur mendhem jero (mengangkat semua kebaikan setinggi-tingginya, menimbun semua keburukan sedalam-dalamnya)," kata Amoroso, yang masih mengulang ucapan Soeharto.

Satu di antara cara yang disampaikan Soeharto adalah mengabadikan nama Soekarno di pintu gerbang Indonesia, Bandara Soekarno-Hatta.

"Situasi politik pada waktu itu tidak memungkinkan saya berbuat banyak kepada Bung Karno, karena itu akan bertentangan dengan kehendak rakyat. Tetapi sesudah semuanya reda, saya segera memerintahkan untuk mengabadikan nama beliau di pintu gerbang Indonesia, Bandara Soekarno-Hatta," tutur Amoroso menirukan jawaban Soeharto.

Amoroso juga mengungkap alasan Soeharto memberikan gelar Pahlawan Proklamasi kepada Soekarno  .

Menurutnya, saat itu ada banyak pertentangan atau perdebatan mengenai gelar pahlawan untuk Soekarno.

Tidak hanya itu, Soeharto juga sempat berpikir, gelar pahlawan apa yang paling tepat untuk Soekarno.

"Akhirnya saya berikan nama Pahlawan Proklamasi dan itu tidak ada yang bisa melawan, karena memang kenyataannya Bung Karno adalah Sang Proklamator," ujar Amoroso, yang sekali lagi menirukan ucapan Soeharto.

Sakit saat Bacakan Teks Proklamasi

Disisi lain, ternyata tidak banyak yang tahu apa yang terjadi sebelum pembacaan proklamasi terjadi di tanggal 17 Agustus 1945.

Siapa sangka jika Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia dibacakan dalam kondisi prihatin dan sangat sederhana.

Apalagi diketahui pada tanggal 17 Agustus 1945 tersebut bersamaan dengan momen bulan Ramadhan.

Selain itu terungkap peran Fatmawati dalam detik-detik jelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Dilansir dari Intisari, Rabu (16/8/2023), saat itu Presiden Soekarno tidak berpuasa karena sakit akibat gejala malaria tertiana.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved