Kilas Balik

Pemain Film Pengkhianatan G30S/PKI Ungkap Alasan Soeharto Makamkan Soekarno di Blitar

Inilah alasan sebenarnya Soeharto makamkan Soekarno di Blitar. Soekarno bersama Mohammad Hatta merupakan orang yang membacakan naskah Proklamasi

|
Editor: Januar
Istimewa
Kolase Soeharto dan Soekarno 

Namun jika pemberontakan untuk menguasai Jakarta dan melumpuhkan pasukan Jepang gagal, para pemuda dari kelompok pemberontak pasti dihukum mati oleh Jepang.

Bahkan Soekarno yang dijadikan pemimpin oleh para pemuda pemberontak juga ikut dihukum mati jika aksi pemberontakan berakhir dengan kegagalan.

Demi mengamankan Soekarno dari pengaruh Jepang sekaligus menyembunyikannya jika pembrontakan gagal, para pemuda di bawah pimpinan Sukarni yang dibantu anggota Pembela Tanah Air (PETA), kemudian menculik Soekarno dan Bung Hatta pada 16 Agustus 1945 dini hari.

Aksi penculikan ini sebenarnya bukan membawa Soekarno di bawah todongan senjata.

Tetapi upaya membawa Soekarno dan istrinya, Fatmawati, serta anaknya, Guntur, yang masih bayi, secara diam-diam agar tidak diketahui militer Jepang.

Untuk tidak menimbulkan kecurigaan, para penculik, termasuk Soekarno, mengenakan seragam militer PETA.

Soekarno sendiri telah disediakan seragam PETA dan dengan dongkol berusaha memakainya karena ukurannya terlalu kekecilan.

Merasa konyol karena mengenakan seragam PETA yang terlalu kekecilan, Soekarno langsung menilai bahwa tindakan Sukarni dan rekan-rekannya yang diklaim merupakan tindakan revolusioner ini, jelas-jelas tanpa perencanaan yang baik.

Soekarno bersama rombongan yang keluar rumah untuk menuju ke dua mobil yang sudah menunggunya, sempat melihat Bung Hatta di satu mobil lainnya, dengan wajah jemu sekaligus kesal.

Soekarno dan Bung Hatta kemudian dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, karena di daerah itu sudah tidak ada pengawasan dari Jepang.

Dalam perjalanan setelah melewati daerah Bogor, rombongan sempat berhenti karena Fatmawati harus menyusui Guntur yang masih berusia sekitar sembilan bulan.

Rombongan penculik yang kemudian mengganti kendaraan dengan truk tua yang biasa digunakan untuk mengangkut prajurit PETA, akhirnya tiba di Rengasdengklok, sekitar pukul 09.00 pagi.

Namun tindakan penculikan Soekarno dan Bung Hatta yang dilakukan para pemuda akhirnya tidak menghasilkan apa-apa.

Pasalnya pemberontakan dan aksi revolusi, seperti dikatakan oleh Sukarni, tidak pernah terjadi.

Tanggal 16 Agustus pagi 1945, Jakarta bahkan geger karena Soekarno yang seharusnya memimpin rapat PPKI ternyata menghilang.

Berita tentang penculikan Soekarno pun menyebar dan semua pihak, termasuk tentara Jepang, yang berusaha melakukan pencarian.

Berkat informasi rahasia dari seorang pemuda yang turut menculik Soekarno, Soekarno dan rombongan lalu dijemput ke Jakarta pada pukul 18.00 petang.

Penjemputnya adalah Ahmad Subarjo, orang yang sudah dikenal Soekarno saat berada di tempat pengasingannya di Bengkulu.

Ia datang menggunakan mobil jenis Skoda buatan Chekoslovakia yang reot dan mesinnya berbunyi menciut-ciut.

Malam harinya setiba di Jakarta, Soekarno kembali bekerja keras karena besoknya harus membacakan teks proklamasi yang dibuat pada malam itu juga.

Inilah cerita di balik momen bersejarah bagi Indonesia.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 pun menjadi awal kehidupan bagi bangsa Indonesia.

Kejadian sebelum Soekarno bacakan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 (via Intisari)
Di sisi lain, terungkap ada naskah yang disobek Soekarno sebelum baca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Fatmawati sang istri Soekarno pun menjadi saksi peristiwa tersebut di rumah Laksamana Maeda.

Di sinilah akan dirumuskan naskah Proklamasi Kemerdekaan.

Dalam buku 'Kilas Balik Revolusi' karya Abu Bakar Loebis disebutkan, jatuhnya pilihan pada rumah Laksamana Maeda karena punya hak imunitas terhadap Angkatan Darat Jepang, sehingga kedua pemimpin tersebut tetap aman.

Di ruang makan Laksamana Maeda, dirumuskan naskah Proklamasi Kemerdekaan yang merupakan pemikiran tiga tokoh, yaitu Soekarno, Mohammad Hatta, dan Achmad Soebardjo.

Proses penyusunan naskah ini juga disaksikan golongan muda yang diwakili oleh Sukarni, Sudiro, dan BM Diah.

Sementara dari pihak Jepang ada S Miyoshi dan S Nishijima.

Ruang makan ini pun menjadi saksi bisu penyusunan teks Proklamasi.

Sementara itu sebelum naskah proklamasi dibacakan, Soekarno sebenarnya sempat menyusun naskah pidato yang juga akan dibacanya.

Namun naskah tersebut dirobek oleh Soekarno.

Hal itu seperti yang disampaikan oleh Fatmawati dalam buku '17-8-45, Fakta, Drama, Misteri' karya Henri F Isnaeni, 2015 lalu.

Dalam buku itu disebutkan, Fatmawati menjadi saksi Soekarno merobek naskah tersebut.

"Nampaknya Bung Karno memaksakan diri menulis sesuatu. Sedangkan aku berbaring kecapaian di dekatnya," ungkap Fatmawati dalam buku itu.

Fatmawati melanjutkan, Soekarno merobek naskah tersebut berkali-kali.

"Hari sudah hampir terang. Berkali-kali Bung Karno menulis sesuatu kemudian dirobek-robek lalu dibuang ke keranjang sampah," tandas Fatmawati.

Pembacaan teks proklamasi dan naskah proklamasi yang ditulis tangan oleh Soekarno (via Kontan.id)
Berikut ini adalah isi lengkap naskah tersebut:

"Saudara-saudara sekalian.

Saya telah meminta saudara-saudara hadir di sini untuk menyaksikan suatu peristiwa mahapenting dalam sejarah kita.

Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun!

Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naik dan turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita.

Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-henti.

Di dalam jaman Jepang itu tampaknya saja kita menyandarkan diri pada mereka.

Tetapi pada hakikatnya, tetap kita menyusun tenaga sendiri, tetap kita percaya kepada kekuatan sendiri.

Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air di dalam tangan kita sendiri.

Hanya bangsa yang berani mengambil dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya.

Maka kami tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia.

Permusyawaratan ini sela-sela berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.

Saudara-saudara. Dengan ini kami nyatakan kebulatan tekad itu. Dengarklah Proklamasi kami."


Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunMadura.com

 

 

 

 

Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved