Minggu, 12 April 2026

Kisah Pilu Soesalit Djojoadhiningrat, Anak Semata Wayang RA Kartini yang Nyaris Terlupakan Sejarah

Soesalit Djojoadhiningrat adalah satu-satunya putra RA Kartini yang perjalanan hidupnya penuh lika-liku dan nyaris terlupakan dalam catatan sejarah.

Penulis: Afrilia Mustika Damayanti | Editor: Mujib Anwar
Kompas.com
ANAK RA KARTINI - Soesalit Djojoadhiningrat, anak semata wayang RA Kartini yang jarang diketahui publik. 

TRIBUNMADURA.COM - Setiap tahunnya, tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini, untuk mengenang jasa Raden Ajeng Kartini yang berhasil mempelopori gerakan emansipasi wanita di Indonesia.

Nama besar Kartini selalu dikenang dalam sejarah sebagai pahlawan yang memperjuangkan hak-hak perempuan, membuka akses pendidikan, dan memecahkan belenggu tradisi yang membatasi peran perempuan dalam masyarakat.

Namun, tahukah kamu bahwa di balik nama besarnya, Kartini memiliki seorang anak kandung yang kisah hidupnya jarang diketahui publik? 

Sosok tersebut adalah Soesalit Djojoadhiningrat, satu-satunya putra RA Kartini yang perjalanan hidupnya penuh lika-liku dan nyaris terlupakan dalam catatan sejarah.

Baca juga: Kumpulan 30 Ucapan Hari Kartini 2025 dalam Bahasa Inggris, Maknanya Sangat Indah

Dilansir dari Grid.Id, Soesalit Djojoadhiningrat lahir pada 1904. Sayangnya, ia belum sempat merasakan kasih sayang ibunya. Hanya empat hari setelah ia lahir, RA Kartini mengembuskan napas terakhir. Tragedi itu menjadikannya seorang piatu sejak lahir. 

Kehilangan belum berhenti di situ. Saat Soesalit berusia delapan tahun, ayahnya, RM Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat, juga meninggal dunia. Dengan begitu, Soesalit menjadi yatim piatu dalam usia yang sangat belia.

Setelah kepergian kedua orang tuanya, Soesalit diasuh oleh neneknya, Ngasirah, serta saudara tirinya yang tertua, Abdulkarnen Djojoadhiningrat. Abdulkarnen sangat menyayangi Soesalit dan berperan penting dalam mendukung pendidikan adiknya itu.

Sebagaimana RA Kartini yang dikenal akan semangatnya terhadap pendidikan, Soesalit juga memperoleh kesempatan belajar di sekolah-sekolah elit. 

Ia menempuh pendidikan dasar di Europe Lagere School (ELS), sebuah sekolah khusus anak-anak Belanda dan kalangan bangsawan pribumi. 

Setelah lulus pada tahun 1919, Soesalit melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS) di Semarang, dan kemudian diterima di Rechtshoogeschool (RHS) di Batavia, salah satu lembaga pendidikan hukum paling prestisius pada masa itu.

Namun, perjalanan pendidikannya di RHS tak berlangsung lama. Setelah satu tahun, Soesalit memilih berhenti dan memulai karier sebagai pegawai pamong praja kolonial. 

Baca juga: Sejarah Sekolah Kartini di Kota Malang, Perjuangan dan Emansipasi Perempuan Mendapatkan Pendidikan

Abdulkarnen menawarkan posisi di Politieke Inlichtingen Dienst (PID), yakni polisi rahasia Hindia Belanda. Di lembaga ini, tugas Soesalit adalah memata-matai gerakan nasionalis dan memantau aktivitas spionase asing, terutama dari Jepang.

Tugas itu membuat Soesalit dilanda dilema. Di satu sisi, ia menjalankan tugas sebagai pegawai pemerintah kolonial. Di sisi lain, hatinya menolak karena sadar, ia seolah ikut mengkhianati perjuangan bangsanya sendiri.

Saat kekuasaan kolonial Belanda runtuh dan Jepang mengambil alih pemerintahan di Indonesia, Soesalit pun keluar dari PID dan bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA), tentara bentukan Jepang yang kelak menjadi cikal bakal TNI.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Soesalit aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Ia sempat menjabat sebagai Panglima Divisi III Diponegoro dan memimpin pasukan dalam pertempuran gerilya melawan Belanda, khususnya di kawasan Gunung Sumbing saat berlangsungnya Agresi Militer Belanda II.

Sumber: Grid.ID
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved