Berita Viral

Sudah Habiskan Rp2,6 M, SMKN Baru Malah Tak Bisa Dipakai Belajar, Kejari Temukan Berbagai Masalah

Bangunan baru SMKN di Ciamis menghabiskan dana miliaran rupiah namun berakhir terbengkalai karena rusak.

Editor: Mardianita Olga
Kompas.com/Kasipidsus
GEDUNG SEKOLAH RUSAK - Potret SMKN 1 Cijeungjing Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, yang mengalami kerusakan meski baru dibangun pada 2023 lalu. Selian itu, bangunan tersebut menghabiskan dana Rp2,6 miliar. 

Hal itu terjadi pada Sekolah Dasar Negeri (SDN) 178 di Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, berakhir roboh usai lima tahun rusak.

Selama itu pula siswa belajar di dalamnya dengan perasaan was-was.

Bagaimana tidak? Dinding retak bahkan plafon jebol bisa sewaktu-waktu menimpa mereka.

Sang kepala sekolah (Kepsek), Yudi Wahyu Hidayat, mengatakan bahwa kerusakan di ruangan kelas telah terjadi sejak 2007.

Lima tahun belakangan kerusakan itu makin parah.

"Ada tiga ruang kelas yang rusak sejak tahun 2007, namun kerusakan bertambah parah dalam lima tahun terakhir. Kami masih belajar di ruang kelas yang rusak selama lima tahun ini," ujar Wahyu saat dihubungi Kompas.com melalui telepon.

Sebab itu, tiga minggu setelah sekolah roboh, para siswa kini terpaksa belajar di bawah pohon dan rumah dinas guru.

Baca juga: Akibat Tembok Pembatas Lapangan Karapan Sapi Roboh, Satu dari 4 Korban Meningal Dunia

"Tiga minggu lalu, dinding ruang kelas roboh, sehingga siswa terpaksa belajar di bawah pohon dan di rumah dinas guru," katanya melanjutkan.

Menarik ke belakang, siswa belajar dengan was-was di ruangan yang rusak.

"Lima tahun ruang kelas rusak parah, kami masih belajar di dalam meski dalam keadaan was-was karena dinding retak, plafon jebol, bocor, dan akhirnya dinding roboh," ungkapnya.

SDN 178 hanya memiliki 15 siswa akibat lokasinya yang terpencil, yaitu di Desa Pagar Agung, Kecamatan Ulo Talo. 

Pemerintah sempat merencanakan penggabungan sekolah ini dengan SD terdekat di Desa Muara Simpur, yang berjarak hanya dua kilometer.

Namun, rencana tersebut terhambat oleh keberadaan jembatan gantung sepanjang 100 meter yang harus dilalui siswa.

"Orang tua siswa khawatir, akhirnya rencana penggabungan batal," kata Yudi.

Yudi menjelaskan, kerusakan gedung sekolah telah terjadi sejak tahun 2007, dan selama hampir 10 tahun menjabat sebagai kepala sekolah, ia telah mengajukan permohonan rehabilitasi sekolah setiap tahun.

Baca juga: BRAK! Kakek Syok Rumah Roboh saat Santai Rebahan, Nasib Berujung 7 Kali Dijahit, Desa Bantu 30 Juta

Potret siswa dan guru SDN 178 di Desa Pagar Agung, Kecamatan Ulu Talo, Kabupaten Seluma, Bengkulu, melakukan kegiatan belajar dan mengajar di bawah pohon karena sekolah roboh.
Potret siswa dan guru SDN 178 di Desa Pagar Agung, Kecamatan Ulu Talo, Kabupaten Seluma, Bengkulu, melakukan kegiatan belajar dan mengajar di bawah pohon karena sekolah roboh. (Kompas.com/Firmansyah)
Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved