Minggu, 31 Mei 2026

Bangga Madura

Mengenal Topeng Gulur, Ritual Syukur Hasil Bumi Khas Sumenep Madura

Topeng Gulur, tradisi sakral khas Sumenep yang memadukan ritual, seni topeng, dan rasa syukur masyarakat Madura atas hasil bumi.

Tayang:
Penulis: Mauidhotun Nisa | Editor: Dwi Prastika
Sumenepkab.go.id
TOPENG GULUR - Tradisi Topeng Gulur dari Desa Larangan Barma, Sumenep, Madura, menjadi simbol rasa syukur masyarakat Madura atas hasil bumi melalui ritual sakral yang sarat nilai budaya. Kabupaten Sumenep, Madura, dikenal memiliki ragam seni dan budaya tradisional yang sarat nilai sejarah serta kearifan lokal, Kamis (7/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Topeng Gulur merupakan tradisi ritual khas Desa Larangan Barma, Sumenep, yang menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil bumi melimpah.
  • Ritual ini berbeda dari Topeng Dalang Madura karena bersifat sakral, melibatkan prosesi tujuh Jumat, arak-arakan warga, dan doa bersama di area persawahan.
  • Tradisi Topeng Gulur diiringi musik saronen khas Madura dan memadukan unsur budaya lokal dengan pembacaan ayat suci Alquran selama ritual berlangsung.

TRIBUNMADURA.COM - Kabupaten Sumenep, Madura, dikenal memiliki ragam seni dan budaya tradisional yang sarat nilai sejarah serta kearifan lokal, Kamis (7/5/2026).

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, sejumlah tradisi khas Madura perlahan mulai tenggelam dan jarang dikenal generasi muda.

Salah satu warisan budaya yang menyimpan nilai spiritual sekaligus filosofi mendalam adalah Topeng Gulur, tradisi ritual yang hidup dan berkembang di Desa Larangan Barma, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep.

Budaya ini bukan sekadar pertunjukan seni biasa.

Topeng Gulur diyakini masyarakat sebagai bentuk persembahan kepada Sang Pencipta sekaligus ungkapan rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah.

Dilansir dari sumenepkab.go.id, budayawan senior Kabupaten Sumenep, Syaf Anton, menjelaskan, Topeng Gulur memiliki karakter yang berbeda dibandingkan Topeng Dalang Madura.

Menurutnya, Topeng Gulur tidak dipentaskan secara bebas untuk hiburan masyarakat umum, melainkan digelar dalam momentum ritual tertentu yang bersifat sakral.

“Topeng ini mempunyai keunikan tersendiri, berbeda dengan Topeng Dalang Madura yang dapat digelar dalam acara manapun, dan dapat dinikmati secara terbuka oleh masyarakat,” ujar Syaf Anton dikutip dari Sumenepkab.go.id.

Dalam pertunjukannya, Topeng Gulur diperankan oleh tiga orang penari yang mengenakan topeng merah dengan karakter wajah tegas dan keras.

Para penari juga memakai ikat kepala merah serta rambut hitam panjang dari rajutan benang.

Busana yang digunakan didominasi warna hitam menyerupai rompi dengan hiasan manik-manik.

Selain itu, para pemain mengenakan kalung bunga yang menjuntai hingga perut, sabuk, dan gungseng di kaki yang menghasilkan bunyi khas saat bergerak.

Pertunjukan ritual tersebut diiringi alat musik tradisional seperti saronen dengan irama yang berbeda dari pertunjukan musik Madura pada umumnya.

Baca juga: Deretan Kesenian Khas Madura, Dari Karapan Sapi hingga Tari Tradisional Sarat Makna

Ritual Syukur atas Hasil Pertanian

Kutipan dari laman Diskominfo Jawa Timur menyebutkan, Topeng Gulur erat kaitannya dengan tradisi agraris masyarakat Madura.

Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas keberhasilan panen dan kesuburan tanah setelah musim hujan.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved