Rabu, 29 April 2026

Hikmah Ramadan

Ramadan Menjadi Bulan Pertobatan, Simak Penjelasan Tentang Taubat Inabah dan Istijabah

Syekh Ibn ‘Athaillah membedakan dua jenis taubat, yaitu taubat inabah dan taubat istijabah. Berikut penjelasannya.

Editor: Dwi Prastika
kemenag.go.id
MENAG (Arsip) - Hasil sidang isbat penentuan 1 Ramadan diumumkan langsung Menteri Agama Nasaruddin Umar di Hotel Borobudur, Lapangan Banteng, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Selasa (17/2/2026). Nasaruddin Umar, dalam artikel hikmah Ramadan 2026 berjudul "Menggapai Taubat Istijabah," yang tayang pada Sabtu (21/2/2026). 

Menggapai Taubat Istijabah

Oleh: Menteri Agama Prof Dr H Nasaruddin Umar.

TRIBUNMADURA.COM - Dalam pandangan ulama spiritual, taubat atau tobat itu bertingkat-tingkat.

Tentu kita berharap taubat yang dilakukan semakin jauh meninggalkan taubat dasar, taubat yang lazim dilakukan oleh orang-orang awam. Taubatnya orang awam ketika bertaubat setelah melakukan dosa besar.

Taubat semakin meningkat jika dosa-dosa kecil pun ditaubatkan, karena sadar, bahwa dosa-dosa kecil yang menumpuk bisa menjadi dosa besar.

Bulan suci Ramadan sebagai bulan pertobatan (syahr al-taubah) sebaiknya dimanfaatkan untuk melakukan pertobatan. Syukur kalau bisa menjalani taubat lebih tinggi.

Syekh Ibn ‘Athaillah membedakan dua jenis taubat, yaitu taubat inabah dan taubat istijabah.

Taubat inabah ialah sikap taubat seorang hamba yang didorong oleh rasa takut terhadap dosa dan maksiat yang telah dilakukannya, sehingga terbayang di benaknya kerugian besar di dunia dan siksa dan malapetaka Tuhan yang amat pedih di neraka.

Dosa dan maksiat yang pernah dilakukannya membuatnya betul-betul takut kepada Allah SWT.

Dalam suasana takut seperti itu ia menyerahkan diri, bertaubat, dan memohon pengampunan kepada Allah. 

Ia selalu membayangkan api neraka yang akan menyiksa dirinya seandainya Allah tidak memaafkannya.

Baca juga: Keutamaan Bulan Ramadan hingga Berbagai Sejarah Monumental yang Terjadi di Bulan Suci

Siang dan malam selalu melakukan ketaatan dengan harapan amal kebajikan bisa mengikis habis segala dosa-dosanya, sebagaimana firman Allah: Inna al-hasanat yudzhibna al-sayyi’at (sesungguhnya amal kebajikan menghapuskan segala dosa).

Sebesar apapun dosa seseorang, pengampunan dosa jauh lebih besar.

Adapun taubat istijabah merupakan bentuk taubat seorang hamba yang malu terhadap kemuliaan-Nya.

Taubat dalam tahap ini tidak lagi membayangkan Allah SWT sebagai Maha Pembalas terhadap segala dosa dan maksiat sebagaimana dalam tahap taubat inabah.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved