Rabu, 3 Juni 2026

Ramadan 2026

Amalan Subhanal Malikil Quddus, Zikir Penutup Salat Witir Saat Ramadan

Zikir Subhanal Malikil Quddus menjadi amalan sunah penutup witir, simak dalil serta maknanya di bulan Ramadan.

Tayang:
Penulis: Kevin Dimas Prasetya | Editor: Dwi Prastika
Tribun Jatim Network/Anggit Puji Widodo
ZIKIR DAN DOA - Suasana jemaah melantunkan zikir Subhanal Malikil Quddus usai salat witir pada malam Ramadan. Zikir ini bukan sekadar lafaz pujian, melainkan pengakuan atas keagungan dan kesucian Allah SWT. 
Ringkasan Berita:
  • Zikir Subhanal Malikil Quddus menjadi amalan sunah yang dibaca setelah salat witir pada malam Ramadan.
  • Amalan ini bersumber dari hadis riwayat Abu Dawud yang menyebut Rasulullah SAW membacanya usai salam witir. Bacaan tersebut berisi tasbih, pengakuan tauhid, serta doa memohon ampunan dan keridaan Allah.
  • Secara makna, zikir ini menegaskan keagungan dan kesucian-Nya, sekaligus menjadi penutup ibadah malam yang memperkuat harapan agar salat, puasa, dan qiyam diterima.

TRIBUNMADURA.COM – Masyarakat Indonesia tengah berbahagia menyambut Bulan Ramadan yang dimulai pada 19 Februari 2026.

Bulan Ramadan merupakan waktu yang dianjurkan untuk banyak beribadah, Selasa (24/2/2026).

Satu di antara ibadah yang tak boleh terlewat selain puasa Ramadan adalah salat tarawih.

Karena salat tarawih hanya dilakukan di Bulan Ramadan.

Salat tarawih dilakukan setelah salat Isya, rangkaian qiyamul lail biasanya ditutup dengan salat witir.

Pada momen inilah, terdapat zikir yang diajarkan Rasulullah SAW dan terus diamalkan hingga kini, yakni bacaan "Subhanal Malikil Quddus."

Zikir ini bukan sekadar lafaz pujian, melainkan pengakuan atas keagungan dan kesucian Allah SWT.

Baca juga: Marhaban ya Ramadan, Jejak Sejarah di Balik Ucapan Penyambut Bulan Suci

Perintah Berdoa

Dikutip dari Kompas.com, anjuran untuk memperbanyak doa ditegaskan Allah SWT dalam Alquran, salah satunya Surat Al Baqarah ayat 186:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ۝١٨٦

Artinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Ayat tersebut menjadi landasan teologis bahwa doa dan zikir, termasuk setelah witir, merupakan wujud kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya.

Dalam buku Doa dan Wirid Penolak Bala; 100+ Doa dan Bacaan Ruqyah dalam Al Quran dan Hadis karya Sulthan Adam, SQ, dijelaskan bahwa ayat ini menunjukkan Allah SWT membuka ruang komunikasi langsung dengan hamba-Nya tanpa perantara.

Dalil Hadis Bacaan Subhanal Malikil Quddus

Bacaan Subhanal Malikil Quddus bersumber dari praktik Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunannya.

ورد في السنة العملية أنَّ الرسول الكريم كان (إذا سَلَّمَ فِيْ الوِترِ، قَالَ: سُبْحانَ المَلِكِ القُدُّوْسِ) رواه أبو داود

Artinya: “Telah datang dalam sunah amaliyah bahwa Rasulullah apabila selesai salam salat witir beliau mengucapkan: Subhanal Malikil Quddus.” (HR Abu Dawud)

Hadis ini menegaskan bahwa zikir tersebut merupakan bagian dari sunah yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW setelah menunaikan witir.

Baca juga: Hukum Menangis saat Puasa Ramadan, Apakah Membatalkan? Ini Penjelasan Ulama dan Dai

Bacaan Lengkap dan Artinya

Berikut bacaan zikir yang umum diamalkan setelah witir:

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ (٣×)
سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ المَلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ
نَسْأَلُك رِضَاك وَالْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِك مِنْ سَخَطِك وَالنَّارِ
اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا (٣×) يَا كَرِيْم

Artinya: “Maha Suci Raja Yang Maha Suci. Maha Suci Tuhan kami dan Tuhan para malaikat serta Jibril. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku memohon ampun kepada-Nya. Kami memohon keridaan dan surga-Mu serta berlindung dari murka dan neraka-Mu. Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami.”

Dalam kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi dijelaskan bahwa memperbanyak tasbih setelah shalat malam merupakan bentuk pengagungan kepada Allah serta pengakuan atas kelemahan diri manusia.

SALAT - Pelaksanaan salat tarawih di Masjid Ponpes Mahfilud Duror, Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, Jember, Jawa Timur, Senin (16/2/2026) malam. Mereka melaksanan ibadah puasa lebih awal, yakni pada Selasa (17/2/2026).
SALAT - Pelaksanaan salat tarawih di Masjid Ponpes Mahfilud Duror, Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, Jember, Jawa Timur, Senin (16/2/2026) malam. Mereka melaksanan ibadah puasa lebih awal, yakni pada Selasa (17/2/2026). (Tribun Jatim Network/Imam Nawawi)

Penutup Ibadah Malam yang Sarat Makna

Secara makna, “Al-Malik” menegaskan kekuasaan mutlak Allah, sedangkan “Al-Quddus” menunjukkan kesucian-Nya dari segala kekurangan.

Dalam buku Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq disebutkan bahwa zikir setelah witir menjadi penutup ibadah malam yang memperkuat nilai tauhid serta harapan ampunan.

Mengamalkan Subhanal Malikil Quddus bukan hanya mengikuti sunah, tetapi juga membangun ketenangan batin, terutama di bulan Ramadan.

Dzikir ini menjadi bagian penting dari rangkaian salat tarawih dan salat witir, sekaligus warisan spiritual yang kaya makna.

Malam demi malam, ketika suara tasbih dilantunkan selepas witir, tersimpan harapan agar setiap hamba termasuk golongan yang diampuni dan dikumpulkan bersama orang-orang saleh dalam rahmat-Nya.

Baca juga: Sejarah Kolak Pisang, Menu Takjil Ikonik Ramadan, Pernah Jadi Media Dakwah

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved