Rawon, Kuliner Legendaris Jawa Timur Berusia Lebih dari 1.000 Tahun
Rawon merupakan kuliner khas Jawa Timur, tak hanya berusia lebih dari 1.000 tahun, tetapi juga tetap lestari lewat warung legendaris lintas generasi.
Penulis: Kevin Dimas Prasetya | Editor: Dwi Prastika
Ringkasan Berita:
- Rawon merupakan kuliner khas Jawa Timur yang telah ada sejak tahun 901 M, dibuktikan melalui Prasasti Taji.
- Hidangan ini juga tercatat dalam naskah kuno dan menjadi favorit Keraton Mangkunegaran.
- Eksistensi dari kuliner legend ini tetap terjaga, salah satunya melalui rawon legendaris di Bangkalan yang mempertahankan cita rasa turun-temurun sejak 1960-an.
TRIBUNMADURA.COM - Rawon bukan sekadar hidangan berkuah hitam khas Jawa Timur, melainkan jejak panjang sejarah kuliner Nusantara yang terus bertahan lintas generasi, Sabtu (18/4/2026).
Di tengah gempuran makanan modern, rawon tetap eksis sebagai warisan budaya yang telah dikenal sejak abad ke-10.
Bukti keberadaannya tercatat dalam prasasti kuno hingga naskah kerajaan, sementara eksistensinya di masa kini tetap terjaga melalui warung-warung legendaris di berbagai daerah.
Tradisi rasa yang diwariskan turun-temurun ini menjadikan rawon tidak hanya sebagai makanan, tetapi juga bagian dari identitas sejarah dan budaya masyarakat Jawa Timur.
Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa nama rawon berasal dari bahasa Jawa “rawa,” yang merujuk pada warna air rawa yang gelap. Hal ini selaras dengan tampilan kuah rawon yang berwarna hitam pekat.
Warna khas tersebut berasal dari penggunaan kluwek sebagai bumbu utama. Di luar negeri, rawon bahkan dikenal dengan sebutan “black soup” karena tampilannya yang unik.
Baca juga: Gedung Siola, Saksi Bisu Sejarah Perdagangan dan Perjuangan di Surabaya
Jejak Sejarah Rawon Sejak Abad ke-10
Berdasarkan informasi yang dilansir dari situs resmi probolinggo.go.id rawon telah dikenal sejak tahun 901 oleh Rakryan I Watu Tihang Pu Sanggramadurandara menerbitkan Prasasti Taji yang ditemukan di wilayah Ponorogo, di dalamnya tercantum istilah “Rarawwan.”
Prasasti ini terdiri dari tujuh lempeng tembaga dan ditemukan pada tahun 1868 di Dukuh Taji, Desa Gelanglor, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, Jawa Timur.
Dalam prasasti tersebut, rawon disebut dengan nama “Rarawwan.”
Tak hanya itu, keberadaan rawon juga tercatat dalam naskah kuno Serat Wulangan Olah-Olahan Warna-Warni yang dicetak pada tahun 1926.
Dalam catatan tersebut, rawon diketahui menjadi salah satu hidangan favorit keluarga kerajaan di Keraton Mangkunegaran Surakarta.
Selain itu, rawon juga disebut dalam karya sastra Jawa Kuno Bomakawya atau Bhomantaka, yang semakin memperkuat eksistensinya sebagai kuliner tradisional yang telah lama dikenal masyarakat.
Baca juga: Sejarah Ponpes Banyuanyar, Dari Sumber Air Baru hingga Jadi Pusat Pendidikan Islam di Madura
Rawon Bangkalan, Legenda Rasa yang Bertahan Lintas Generasi
Eksistensi rawon tidak hanya bertahan dalam catatan sejarah, tetapi juga hidup di tengah masyarakat hingga kini.
Salah satu contohnya adalah rawon khas Bangkalan, Madura, yang tetap mempertahankan cita rasa autentiknya sejak puluhan tahun lalu.
Warung rawon legendaris milik Nyik Patmi di Kecamatan Socah, Bangkalan, telah dikenal sejak sekitar tahun 1960 hingga 1970.
sejarah rawon
kuliner legendaris
Warung Nyik Patmi
Warung Rawon
Rawon
Bangkalan
Jawa Timur
Ponorogo
Madura
TribunMadura.com
berita Tribun Madura hari ini
Tribun Madura
meaningful
matalokaltravel
| Taman Nasional Baluran, Pesona 'Africa van Java' di Kabupaten Situbondo |
|
|---|
| 5 Tersangka Penyalahgunaan BBM Subsidi di Sumenep Tak Ditahan, Berkas Perkara Mengendap di Kejaksaan |
|
|---|
| Sejarah Kota Lama Surabaya, Jejak Kawasan Perdagangan yang Kini Menjadi Destinasi Wisata Heritage |
|
|---|
| Sejarah Ponpes Al Falah Ploso Kediri: Pusat Pendidikan Islam Salafiyah dan Kajian Kitab Kuning |
|
|---|
| Pasca Puncak Ibadah Haji di Armuzna, Petugas Terus Pantau Kondisi Jemaah Asal Sampang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/madura/foto/bank/originals/Rawon-buntut-yang-dihidangkan-oleh-Chef-Catur.jpg)