Jumat, 17 April 2026

Berita Surabaya

Lima Terminal di Surabaya Mangkrak, Malah Digerojok Dana Operasional Puluhan Miliar

Lima Terminal di Surabaya Mangkrak, Malah Digerojok Dana Operasional Puluhan Miliar dan Disorot DPRD.

Penulis: Fatimatuz Zahroh | Editor: Mujib Anwar
TRIBUNMADURA/FATIMATUZ ZAHROH
Kondisi Terminal Kedung Cowek saat disidak Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Rabu (2/1/2019). Kondisinya benar-benar sepi dan tak ada satupun angkutan yang berhenti mencari penumpang di terminal millik Pemkot Surabaya ini. 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Banyaknya terminal mangkrak di Kota Surabaya disorot tajam oleh Komisi C DPRD Kota Surabaya. Komisi yang membidangi pembangunan ini minta Pemkot Surabaya mengambil langkah solutif untuk menangani gedung-gedung terminal yang mangkrak. 

Terlebih karena biaya operasional yang dikeluarkan untuk terminal yang mangkrak terus mengalir termasuk di APBD 2019 nilainya cukup besar. Setahun, ada anggaran Rp 27 miliar untuk operasional 14 terminal yang dikatakan Komisi C, dimana sekitar lima terminal diantaranya dalam kondisi mangkrak. 

Salah satu yang terparah adalah kondisi Terminal Kedung Cowek. Sebagaimana saat didatangi bersama anggota Komisi C, Camelia Habibah, Rabu (2/1/2019), kondisi terminal benar-benar sepi dan tidak ada satu angkutan pun yang berhenti mencari penumpang di terminal ini. 

Para sopir angkot jurusan R2 lebih memilih untuk mengangkut penumpang dari luar terminal dan sekitar jauh dari terminal Kedung Cowek. Melihat kondisi ini, politisi PKB tersebut menyampaikan keprihatinannya dan menyebut Terminal Kedung Cowek adalah produk gagal dari Pemkot Surabaya.

"Saat hearing sering saya sampaikan, ini adalah satu produk gagalnya Pemkot. Gagal fokus, karena Pemkot tidak fokus, dan pembangunan terminal ini salah posisi, salah penempatan. Ini mengapa harus ada Kajian Sosial," kata Camelia Habibah di lapangan. 

Seharusnya, dikatakan Habibah, Terminal Kedung Cowek ini dibangun lebih dekat dengan pasar, dan dibuat terlalu menjorok ke dalam.

Sedangkan kondisi terminal ini, selain menjorok ke dalam juga hanya difungsikan untuk satu jenis angkutan saja. Sehingga hampir tidak ada angkutan yang mau masuk ke dalam terminal. Karena juga tidak banyak orang yang lalu lalang di terminal ini.

Bahkan Habibah menyebut terminal ini sudah seperti kuburan lantaran hampir tidak ada aktivitas di terminal. 

"Ini namanya buang-buang uang. Setiap tahun ada anggaran operasionalnya. Saat ini saja di sini ada sepuluh personel yang bertugas di Terminal Kedung Cowek. Delapan orang outsourcing dan dua orang PNS," katanya. 

Mereka tidak bertugas maksimal lantaran di Terminal Kedung Cowek juga tidak ada aktivitas yang berarti. Begitu juga tidak ada kendaraan yang masuk ke dalam terminal. 

"Tahun ini, untuk anggaran operasional terminal dialokasikan sebesar Rp 27 miliar. Untuk 14 lokasi terminal. Termasuk untuk terminal Kedung Cowek ini. Kalau seperti ini anggarannya kan muspro, sia-sia," tegas Camelia Habibah

Untuk itu, awal tahun ini, Komisi C berniat untuk memanggil Bappeko untuk membicarakan terminal-terminal yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya tersebut.

Sebab Bappeko adalah perencana semua pembangunan di Kota Surabaya namun saat direalisasikan tidak tepat guna, maka tetap harus ada solusi.

"Kalau saya mengusulkan, misalnya perpanjang trayek angkutan, termasuk yang dari Bulak Banteng juga diperpanjang saja sampai sini. Sehingga orang yang naik bus dari Suramadu bisa berganti angkutan di terminal kedung cowek ini. Atau yang kedua adalah ada petugas yang berjaga di depan untuk mengarahkan angkutan masuk ke dalam terminal," katanya. 

Tidak hanya itu, Habibah juga mengusulkan agar ada pengadaan Bus Suroboyo mini. DYang kursinya tidak lebih dari 20 seat. Sebab saat ini Bus Suroboyo ukurannya terlalu besar dan tidak bisa masuk ke wilayah Surabaya Utara. 

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved