Berita Gresik
Warga Tiga Kelurahan di Gresik Geruduk Kantor DPRD Gresik, Tuntut Polemik Polusi Batu Bara Diakhiri
Warga Kabupaten Gresik meminta DPRD Gresik untuk menyelesaikan polemik polusi batu bara.
Penulis: Soegiyono | Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
Warga Kabupaten Gresik meminta DPRD Gresik untuk menyelesaikan polemik polusi batu bara
TRIBUNMADURA.COM, GRESIK - Warga Kabupaten Gresik yang terdampak polusi batu bara memenuhi halaman kantor DPRD Gresik, Senin (25/11/2019).
Mereka hadir untuk memenuhi panggilan Ketua DPRD Gresik, Fandi Ahmad Yani terkait usaha bongkar muat batu bara yang diduga mencemari lingkungan dan membuat warga resah.
Perwakilan warga dari Kelurahan Lumpur, Kroman, dan Kemuteran, semuanya dari Kecamatan Gresik, berbondong-bondong jalan kaki menuju kantor DPRD Gresik dengan membawa poster.
• Viral di Facebook, Pengendara Mobil Ditolak Petugas SPBU saat Mau Isi BBM Karena Memuat Ternak Sapi
• Teror Lemparan Batu dan Bongkahan Tanah Hantui Pengendara di Lamongan, Pelaku Akhirnya Ditangkap
• Mau Buang Limbah Galian Batu Kapur, Pria Tuban Menghilang Misterius, Hanya Tersisa Gerobak Dorongnya
Beberapa tulisan poster tersebut yaitu 'Lautku tercemar, daganganq tak laku karena debu GJT (Gresik Jasatama)' dan 'Tanpa CSR kami tetap hidup'.
Poster tersebut berisikan keluhan warga sudah bosan dengan polusi batu bara.
"Warga sudah bosan dengan polusi batu bara yang dibongkar di GJT," kata Adhik Bachtiar, warga Kroman Yaang ingubbne hearing dengan DPRD Gresik.
"Warga hanya ingin hidup sehat tanpa polusi batu bara," sambung dia.
Warga juga menyayangkan adanya dugaan adu domba sesama warga.
• Massa Aliansi Aktivis Jember Kepung DPRD Jember, Tuntut Pemakzulan Bupati Jember Faida
• Hujan Deras Disertai Angin Puting Beliung Terjang Bojonegoro, Sejumlah Rumah hingga Tower Ambruk

Hal itu terlihat dari adanya unjuk rasa yang mengatasnamakan masyarakat pendukung GJT tetap beroperasi.
Alasannya, karena sopir truk dan pekerja bongkar muat batu bara tidak bisa beroperasi.
"Yang terdampak masyarakat dekat bongkar muat batu bara. Bukan warga yang mengatasnamakan terdampak usaha bongkar muat batu bara tutup," jelas dia.
"Tapi debunya batu bara warga yang merasakan," katanya.
Sampai saat ini, perwakilan warga terdampak polusi batu bara baru masuk ke gedung DPRD Gresik untuk mediasi.
Terlihat dari berbagai instansi Pemkab Gresik dan Pelindo Gresik juga hadir. (ugy/Sugiyono).
• Rumah Petani di Madiun Ambruk Tersapu Hujan Deras & Angin Puting Beliung, Pemilik Rugi Belasan Juta