Aksi Licik Komplotan Tipu Penjual Online Lewat Bukti Transfer Palsu, Dibongkar Polisi dari Benda Ini

Aksi penipuan dengan modus bukti transfer palsu dibongkar unit reskrim Polsek Lakarsantri Surabaya.

Penulis: Firman Rachmanudin | Editor: Sudarma Adi
TRIBUNMADURA.COM/FIRMAN RACHMANUDIN
Kapolsek Lakarsantri, Kompol Palma F Fahlevi didampingi Kanit Reskrim Polsek Lakarsantri, Iptu Suwono menunjukkan tersangka dan barang bukti. 

Aksi Licik Komplotan Tipu Penjual Online Lewat Bukti Transfer Palsu, Dibongkar Polisi dari Benda Ini

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Aksi penipuan dengan modus bukti transfer palsu dibongkar unit reskrim Polsek Lakarsantri Surabaya.

Satu dari dua pelakunya ditangkap,setelah polisi mendapat laporan korbannya.

Pelaku yang ditangkap adalah Deni (20) warga Simorejosari Surabaya.

Deni memiliki peran sebagai penjual barang hasil kejahatan yang uangnya dikirimkan ke pelaku berinisial YAG yang kini mendekam di Lapas Pamekasan.

Kapolsek Lakarsantri Kompol Palma F Fahlevi menuturkan, modus operandi para pelaku memanfaatkan kelengahan korban yang berjualan barang secara online.

Dilaporkan ke Polisi, Owner Arisan di Tulungagung Bantah Lakukan Penipuan, Ungkap Awal Mula Kasus

Dijanjikan Imbalan Rp 200 Ribu, Tukang Ojek Diajak ke Luar Kota, Tapi Malah Jadi Korban Penipuan

Usai Dirut Properti Syariah Ditangkap, Polisi Selidiki Kasus Penipuan, Kerugian Ditaksir Rp 1 T

"Korban dan pelaku utama yang informasinya ada di Lapas itu berkomunikasi seolah-olah akan membeli ponsel kepada korban. Setelah sepakat harga, kemudian pelaku utama ini mengirimkan bukti transfer sejumlah uang kepada korban melalui screen shoot yang dikirim via WhatsApp.

Selanjutnya,pelaku ini memesan ojek online untuk mengambil barang tersebut dan diantarkan ke tempat tersangka DN. Selanjutnya oleh tersangka DN ini dijual. Setelah barang dikirim, korban baru sadar jika uang yang ditransfer oleh pelaku tidak masuk alias bukti transfernya palsu," kata Palma, Senin (24/2/2020).

Aksi itu terbongkar setelah pelaku beraksi dengan modus serupa untuk kedua kalinya.

"Korban berkoordinasi dengan kami dan melakukan penyelidikan,karena modus yang digunakan sama. Alhasil, kami bekerjasama dengan ojek online yang dikirim pelaku hingga mendapati tersangka DN ini," tambah Palma.

Saat diinterogasi, Deni mengaku hanya mendaoat perintah dari YAG yang ada di lapas. Ia tidak tahu jika barang tersebut merupakan barang hasil penipuan.

"Saya tidak tahu kalau itu barang penipuan. Saya tidak berhubungan langsung sama korbannya,"kata Deni.

Meski begitu, Deni mengaku dapat bagian 200 ribu dari hasil penjualan handpone pertama senilai 1,5 juta rupiah.

"Sisanya saya disuruh transfer ke paman saya yang juga temannya YAG ini di lapas. Katanya butuh buat makan disana"tandasnya.

Penulis : Firman Rachmanudin

Editor : Sudarma Adi

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved