Breaking News:

Virus Corona di Sumenep

Tidur di Hutan Bambu karena Tak Mampu Bayar Kos, Warga Sumenep yang Terdampak Corona: Kami Diusir

Akibat dampak pandemi Covid-19, warga kurang mampu di Desa Pandian, Kecamatan Kota Sumenep harus tidur di hutan bambu, Desa Batuan, Kabupaten Sumenep.

TRIBUNMADURA.COM/ALI HAFIDZ SYAHBANA
Rumah Keluarga Sadik (40) yang terdampak virus corona. Mereka memilih tidur di hutan bambu di Desa Batuan, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep, Rabu (29/4/2020). 

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Ali Hafidz Syahbana

TRIBUNMADURA.COM, SUMENEP - Akibat dampak pandemi Covid-19, warga kurang mampu di Desa Pandian, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep harus tidur di hutan bambu, Desa Batuan, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep.

Ia harus tinggal di hutan bambu karena tak mampu membayar tempat indekos atau rumah kontrakan.

Seorang warga asal pulau kangean, Sumenep, Sadik (40) mengungkapkan dirinya dan keluarga terpaksa tidur di hutan bambu karena sulitnya mencari pekerjaan di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.

80 Persen Pasien di RSUD Pamekasan Positif Corona Tanpa Gejala, Dokter Minta Masyarakat Waspada

Bupati Pamekasan Blusukan ke Rumah Warga, Serahkan BLT Rp 600 Ribu/Bulan kepada 306 KK di Dua Desa

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam dan Wakil Bupati Rajae Hibahkan Semua Gajinya untuk Relawan Covid-19

"Saya sudah hampir dua bulan hidup bersama istri dan dua anak saya di rumah bambu ini karena di usir tak mampu membayar uang kontrakan," kata Sadik, saat ditemui TribunMadura.com di Desa Batuan, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep, Rabu (29/4/2020).

Bapak dari dua anak ini mengaku, sudah 4 tahun bekerja serabutan yang merantau dari pulau kangean. Dan selama 4 tahun pula mengontrak dan sudah tidak punya tempat tinggal di rumah asalnya.

"Mengapa saya di usir, karena saya tidak punya uang untuk membayar. Selama musim corona ini uang kontrakan naik setiap bulan Rp 50 ribu. Yang awalnya bayar Rp 200 - 350 ribu," katanya.

Suami dari Rusnami (33) ini mengaku, selama pandemi Covid-19 ini juga susah mencari pekerjaan dan bahkan ia terpaksa untuk mencukupi kehidupan rumah tangganya harus ikut kerabatnya memanen padi.

Pemkab Pamekasan Bagikan 2.000 Paket Sembako ke Warga Terdampak Covid-19

Satu ODP asal Jember Keluyuran ke Kota Surabaya dan Hendak ke Madura, Begini Kata Pemkot Surabaya

Strategi Penanganan Covid-19 di Pamekasan, Penyemprotan Disinfektan dan Sediakan Tempat Cuci Tangan

"Dari itulah saya bisa dimakan untuk keluarga, dan selama ini saya memang tidak pernah menerima bantuan apapun dari pemerintah," ngakunya.

Sadik ini berharap ada uluran tangan dari pemerintah setempat, mengingat selama musim Covid-19 ini sudah mulai menganggur untuk bekerja.

Untuk diketahui, Sadik memiliki anak yang pertama bernama Sani (7) dan kedua bernama Sariani (satu tahun 17 bulan) yang kini hidup di rumah bambu dengan ukuran 3 - 2 meter.

Penulis: Ali Hafidz Syahbana
Editor: Elma Gloria Stevani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved