Berita Malang
Tak Banyak Warga yang Mau Periksakan Diri saat Punya Gejala Awal Covid-19, Padahal Berdampak Serius
Tidak sedikit masyarakat yang mau menyadari dan segera memeriksakan diri saat bergejala awal.
Penulis: Benni Indo | Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
Reporter: Benni Indo | Editor: Ayu Mufidah KS
TRIBUNMADURA.COM, BATU – Direktur RS Karsa Husada Kota Batu, dr Tries Anggraini mengemukakan, pasien Covid-19 yang datang ke rumah sakit kebanyakan dalam kondisi sedang dan berat.
Akibatnya, penanganan medis untuk pasien Covid-19 lebih berat dan potensi kematian lebih besar.
dr Tries Anggraini menuturkan, tidak sedikit masyarakat yang mau menyadari dan segera memeriksakan diri saat bergejala awal.
Mereka baru mau datang ke rumah sakit saat kondisinya sedang maupun berat.
Baca juga: Warga Bangkalan Ancam Tutup Perumahan di Desa Gili Timur Kamal, Tuntut Pengembang Buat Selokan
Baca juga: Lokasi Balap Liar di Kota Blitar Dibubarkan Polisi, Amankan 52 Pengendara Motor, Pelaku Dapat Sanksi
Baca juga: Janji Manis si Penjual Pisang Ajak Siswi SMP Berhubungan Suami Istri, Padahal Baru Pacaran 2 Bulan
Dalam sehari, ada dua hingga lima orang yang masuk terkonfirmasi positif Covid-19.
Dalam kondisi seperti itu, pengobatan yang diberikan pun beragam.
Bahkan ada yang harus disuntik dengan obat berharga mahal, yakni Rp 6 juta sekali suntik.
Sementara satu orang bisa mendapatkan 10 suntikan sehingga jika ditotal biayanya mencapai Rp 60 juta.
Hal tersebutlah yang dikatakan Tries menjadi penyebab bahwa biaya pengobatan pasien Covid-19 sangat mahal.
Belum lagi, kata dia, ada biaya lainnya, selain obat yang disuntikan.
“Jadi begini, penanganan pasien Covid-19 sangat mahal. Pertama, pakaian hazmat harganya mulai Rp 600 ribu hingga Rp 700 untuk sekali pakai," kata dia.
"Nah belum lagi pasien yang harus dirawat, ada yang sekali suntik Rp 6 juta kalau pasien dalam kondisi sakit berat," sambungnya.
Baca juga: BERITA MADURA TERPOPULER: Puting Beliung Porak Porandakan Pamekasan hingga Kasus Pemukulan Kades
Baca juga: Kabupaten Ponorogo Buka Rekrutmen CPNS 2021 dan PPPK 2021, Formasi Guru Paling Banyak Dibuka
"Biaya ventilator juga ada sendiri, ventilator ini dipakai setiap hari, bisa sampai seminggu. Jadi, biayanya lebih dari Rp 100 juta,” papar Tries.
Biaya pengobatan tersebut dibayarkan oleh Pemerintah Pusat.
Masing-masing rumah sakit atau fasilitas kesehatan mengklaim melalui laporan.
Menurut Tries, rumah sakit tidak serta merta memvonis orang positif atau negatif Covid-19.
Ia pun mengajak agar masyarakat tidak malu jika terkonfirmasi positif Covid-19.
Masyarakat diminta harus memiliki keberanian memeriksakan diri agar gejala awal terdeteksi dan penanganan dini diberikan.
Tries menyayangkan adanya pemikiran bahwa rumah sakit hanya mencari keuntungan dengan cara memvonis seseorang positif Covid-19.
“Klaim kami belum dibayar karena belum ada uang. Meskipun begitu, kami tetap memberikan pelayanan," kata dia.
Baca juga: Pasien Covid-19 Diminta Bayar DP Uang Muka Rumah Sakit, Ini Kata Satgas, Janji Berikan Sanksi ke RS
Baca juga: Aturan PPKM di Surabaya Makin Diperketat, Tak Ada Sosialisasi, Pelanggar Langsung Diberi Sanksi
"Jadi kalau ada yang menuduh tidak-tidak, kami sakit hati,” keluhnya.
Ia juga menyarankan agar Dinkes Kota Batu bisa memberikan edukasi yang masif kepada masyarakat tentang Covid-19.
Menurutnya, tugas Dinkes Kota Batu memberikan edukasi kepada masyarakat sangat vital.
“Pemerintah dalam hal ini lebih ke arah melakukan edukasi maupun penyuluhan melalui Puskesmas dan lainnya. Ini masalah bersama,” katanya.
RS Karsa Husada menerima pasien terkonfirmasi positif Covid-19 setiap hari.
Tries juga mengajak masyarakat untuk selalu rajin dan disiplin menerapkan protokol kesehatan, sekalipun itu di dalam rumah dan lingkungan terdekat.
“Setiap hari selalu ada, karena fenomena sekarang ini orang bisa tes PCR mandiri. Tapi tantangannya memang karena stigma sehingga berusaha supaya orang tidak tahu," ucap dia.
"Padahal seharusnya kalau kena Covid-19 berusaha mencari info sembuh, bisa kemudian isolasi mandiri, atau ke RS agar dapat obat melawan virus," tambahnya.
"Masyarakat jangan sembunyi atau lari menutup diri tapi minta pertolongan dan obat-obatan,” ujarnya.
Saat ini, ruang perawatan Covid-19 di RS Karsa Husada tidak terlalu tinggi.
Kondisi tersebut berbeda dari sebulan lalu, yakni pada Desember 2020. (Benni Indo)