Breaking News:

Rakerwil AMSI Jatim 2021

Ketua Umum AMSI: Kebutuhan Publik Zaman Now Bukan Hanya Berita Keras, Ungkap Kiat untuk Media Massa

Media massa digital dinilai sudah harus mulai meninggalkan pola pikir konservatif dan konvensional. 

Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
ISTIMEWA
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri Rakerwil AMSI Jatim 2021, Jumat (11/6/2021). 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wenseslaus Manggut menyebut, media massa digital atau dalam jaringan sudah harus mulai meninggalkan pola pikir konservatif dan konvensional. 

Wenseslaus Manggut mengatakan, masyarakat tak hanya butuh berita keras (hard news), tapi juga informasi keseharian.

"Informasi tidak harus selalu politik ekonomi atauy hard news lainnya," kata dia dalam Seminar Nasional 'Smart City, Creative Government: Membangun Ekosistem Digital CETTAR Bagi Pembangunan Provinsi Jawa Timur', yang digelar secara luring dan daring oleh AMSI Jatim, Jumat (11/6/2021).

"Publik membutuhkan konten sosial berisi informasi tentang kira-kira mana tempat makanan di kota kita yang tertib prokesnya, bagaimana prokes jaga jarak di pusat belanja, tempat kongko paling sehat, list tukang sate, list tukang cukur, dan lain-lain," sambung dia.

Wens mengatakan, informasi-informasi seperti itu jarang masuk di media-media digital di Indonesia karena pola pikir pengelola media masih konservatif, yakni pemberitaan keras.

Baca juga: Rakerwil AMSI Jatim 2021, Gubernur Jatim Paparkan Jurus Transformasi Digital dalam Genjot Investasi

"Kedua, tak terbayang di pikiran kita bahwa informasi seperti ini bisa dijual," katanya.

Media massa digital dan daring juga bisa memberikan perhatian pada kegiatan amal. Media bisa mengampanyeken kegiatan sosial yang mengajak masyarakat beramal.

"Kita bisa bekerjasama dengan Dinas Sosial, brand yang punya CSR (Corporate Social Responsibility)," kata Wens.

Media massa digital dan daring juga perlu membuat semacam komunitas anti-hoaks dan anti-ujaran kebencian dengan melibatkan banyak pihak.

"Saat ini banyak BUMN dan perusahaan yang ingin dicitrakan ikut dalam kamnpanye anti hate speech dan anti hoax," kata Wens.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved