Berita Sumenep

Menilik Benda Pusaka di Keraton Sumenep, Digemari Wisatawan Mancanegara

Banyak wisatawan berkunjung dari berbagai daerah di Indonesia wisatawan asing datang untuk melihat langsung peninggalan benda Keraton Sumenep

Penulis: Ali Hafidz Syahbana | Editor: Samsul Arifin
ISTIMEWA/TRIBUNMADURA.COM
Satu diantara koleksi keris pusaka hasil buatan empu keris di Sumenep. 

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Ali Hafidz Syahbana

TRIBUNMADURA.COM, SUMENEP - Keraton Sumenep satu-satunya di Jawa Timur (Jatim) yang memiliki sejarah dan benda pusaka peninggalan yang masih dilestarikan.

Banyak wisatawan berkunjung dari berbagai daerah di Indonesia dan bahkan banyak wisatawan asing datang untuk melihat langsung peninggalan bentuk benda pusaka keraton Sumenep.

Keraton Sumenep dikenal menyimpan berbagai jenis benda senjata, berbagai jenis keris, pedang dan tombak peninggalan Keraton Sumenp sering dipamerkan dalam sebuah acara tertentu.

Baik dari segi pamor, besi, bentuk, hingga yang sifatnya mistis, yakni tuahnya.

Tidak sedikit kolektor pusaka dari luar Sumenep dan bahkan luar Negeri yang mencoba berburu pusaka peninggalan Raja-raja Sumenep itu.

Terutama yang paling terkenal ialah pusaka peninggalan Raja-raja dari Dinasti Bindara Saut, khususnya peninggalan Panembahan Sumolo dan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat.

Baca juga: Jika Madura Siap Jadi Provinsi, Bupati Sumenep Ungkap Syarat Hingga Karakteristik Unik Madura

Salah seorang koletor pusaka di Sumenep, Fahrurrazi Suryoningprang pada tahun 2015 lalu pernah bercerita benda pusaka keris yang umum peninggalan raja-raja namanya Jenengan Dhalem.

Mengenai keris pusaka Jenengan Dhalem itu katanya, ternyata banyak jumlahnya.

Namun kata Fahrurrazi Suryoningparang, memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan dengan pusaka yang dibuat Empu lain di Sumenep.

"Memang, untuk yang Jenengan Dhalem Empu-nya khusus. Seperti di masa Panembahan Sumolo itu Empu-nya Kiyai Brumbung. Sedangkan di masa Sultan Abdurrahman itu Empu-nya bernama Kiyai Citranala, sehingga bisa dibedakan dengan pusaka yang dibuat oleh Empu lain," tuturnya.

Dari jumlah pusaka Jenengan Dhalem yang diperkirakan ratusan itu, menurut Fahrurrazi, sebagian kecil memiliki julukan atau berjuluk.

Nama julukan itu biasanya disesuaikan dengan maksud pembuat pusaka atau didasarkan pada kejadian luar biasa yang disebabkan oleh pusaka tersebut.

"Seperti keris pusaka yang berjuluk 'Se Dhamar' misalnya, itu ceritanya dulu memancarkan cahaya terang di malam hari," katanya.

Ada sekitar puluhan pusaka dhalem yang berjuluk, yang disebutkan oleh Fahrurrazi di antaranya, Nogo Besuki, Tondung Perrang, Se Dhamar, Se Serrang Lebat, dan Se Lajing. Disamping itu juga ada yang disebut Se Saang, Se Cena Mabuk, Se Laden, Se Jarum Kerras, Se Parot, Se Sopenna, Se Sonar, Se Tambak,  Se Lendhu, Se Komala, Se Megantara, Se Rendheng, Se Serang Dayu, Se Malias, Se Tamoni, Se Daddhali, Se Banjir, Se Pandita, Se Pangkat, Se Jarum Paet, Se Setan Dunnya, dan  Se Salamet atau Se Wahyuningsih.

"Kalau di kalangan Sumenep, pusaka yang berjuluk itu jelas memiliki nilai sejarah, sekaligus nilai komersil yang lebih tinggi," katanya.

Ketua Keluarga Pecinta Pusaka Sumenenep R. Abdurrahman pada tahun 2010 pernah mengatakan sebanyak 400 benda pusaka yang pernah dipamerkan

Menurut penuturannya, ratusan benda pusaka yang dipamerkan itu sebagian sudah pernah dipakai para raja Keraton Sumenep dan para hulubalangnya saat itu.

Pusaka itu katanya, tidak hanya sebagai senjata perang, tapi juga menjadi jimat yang punya nilai mistis kata R. Abdurrahman.

Benda pusaka tersebut dikumpulkan dari beberapa kolektor yang tergabung dalam Keluarga Pecinta Pusaka Sumenep.

Benda pusaka tersebut beberapa kali pernah diikutkan dalam berbagai pameran, mulai dari pameran di Sumenep sendiri hingga pernah ke Jakarta.

Kalau pameran di Sumenep katanya, hanya diikuti oleh 30 kolektor.

"Sudah ada yang pernah ditawar Rp 250 juta sampai Rp 500 juta oleh kolektor," kata R. Abdurrahman.

Soal harga jual tergantung nilai klasiknya, semakin klasik pusaka, maka nilai dan harganya semakin mahal.

Untuk jenis benda pusaka lainnya ada yang disebut 'Dapur' atau potongan benda, termasuk besi apa yang digunakan.

Sementara untuk jenis keris, nilainya dilihat berdasarkan pamor atau hiasan ukiran pada keris tersebut.

Setiap keris atau tombak katanya, ada klasifikasinya. Setiap klasifikasi ada keunggulannya masing-masing.

Dari itulah, keris sebagai icon Kabupaten Sumenep bukan sebatas jumlah empu yang banyak. Lebih dari itu. Keris hadir di Sumenep memiliki sejarah dan makna yang begitu dalam dan melegenda.

Keris di jaman kerajaan dahulu, menjadi andalan senjata perang karena diyakini memiliki "kekuatan" ghaib.

Dengan kekuatan ghaib itu, keris menjadi barang yang istimewa untuk dimiliki setiap individu.

Saat ini, keberadaan keris dipercaya memiliki isi. Sebagian menempatkan keris sebagai aksesori (ageman) dalam berbusana dan menjadi benda koleksi yang bernilai estetika.

Terbukti, Bupati Sumenep, Achmad Fauzi  awal-awal baru menjabat pasca dilantik sebagai pemimpin kota keris langsung membuat aturan baru untuk diberlakukan di Keraton Sumenep.

Aturan baru tersebut pada intinya mengembalikan fungsi keraton Sumenep sebagai tempat pusat pemerintahan sekaligus pusat kebudayaan di Sumenep.

Ia menilai, selama ini Keraton Sumenep kehilangan fungsinya sebagai pusat pemerintahan sekaligus pusat kebudayaan Sumenep.

"Mulai sekarang saya berusaha mengembalikan fungsi keraton seperti fungsi semula," kata orang nomor satu di Pemkab Sumenep pada hari Sabtu (27/2/2021) lalu.

Pihaknya sudah menyusun sejumlah peraturan yang harus diterapkan di komplek pendopo Keraton Sumenep.

Seperti memfungsikan kembali pintu utama keraton (Labeng Mesem) sebagai akses keluar masuk termasuk kendaraan dinas bupati menuju rumah dinas Sumenep.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved