Berita Bangkalan

Ular Sanca 3 Meter Gegerkan Kota Bangkalan, Dosen Pertanian UTM : Satwa Langka, BKSDA Harus Tahu

Penemuan dua Sanca dengan panjang tubuh sama, yakni 3 meter itu membuat sejumlah petugas Pemadam Kebakaran

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Samsul Arifin
TribunMadura.com/Ahmad Faisol
Warga bersama anggota Damkar Satpol PP Bangkalan menangkap Phyton jenis Sanca usai terjatuh bersama ranting di pinggir jalur protokol, Jalan KH Moh Kholil, Sabtu (3/9/2022). 

TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN – Phyton jenis Sanca Bodo dalam dua bulan terakhir  ditemukan di kawasan padat penduduk Kota Bangkalan. Pertama, dalam kandang ayam rumah warga, Gang Flamboyan Blok B/12 Perumda, Kelurahan Mlajah, Rabu (6/7/2022). Kedua, ditemukan nangkring membelit ranting pohon di pinggir jalur protokol, Jalan KH Moh Kholil, Sabtu (3/9/2022).

Penemuan dua Sanca dengan panjang tubuh sama, yakni 3 meter itu membuat sejumlah petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Satpol PP setempat harus bekerja keras untuk melakukan evakuasi.

“Saat kami menerima laporan, posisi ular sudah di atas pohon. Ketika tiba di lokasi, ternyata sudah ada seorang warga di atas pohon, berusaha mengevakuasi,” ungkap Komandan Peleton Damkar Satpol PP Bangkalan, Sodik Johan Wahyudi kepada Surya, Senin (5/9/2022).

Namun, lanjutnya, upaya evakuasi Sanca dengan menggunakan sebatang galah bambu belum membuahkan hasil. Selain di luar jangkauan, posisi hewan reptil itu membelit ranting sehingga kesulitan untuk melepas tubuhnya. Akhirnya diputuskan untuk menggergaji hingga ranting dan ular jatuh.

“Saat itulah ular ditangkap warga. Informasi yang kami terima dari salah satu santri, ular mulai naik pohon pada Jumat, tapi tidak diindahkan. Ah, nanti juga turun lagi, tetapi ular semakin ke atas. Entah mengejar burung atau apa?. Ular sudah dibawa warga,” pungkas Sodik.

Sebelumnya, Sanca Bodo seberat 160 KG di lokasi pertama yang ditemukan dalam kandang ayam di rumah warga, Gang Flamboyan Blok B/12 Perumda, Kelurahan Mlajah juga diserahkan kepada warga.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang juga concern di Konservasi Sumber Daya Alam, Ihsanudin mengungkapkan, Phyton jenis Sanca masuk daftar spesies satwa liar yang dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional.

“Dikategorikan satwa appendix satu, statusnya sudah redlist dan BKSDA Pamekasan harus tahu keberadaan Sanca itu. Bahkan, untuk memeliharanya juga harus ijin,” ungkap Ihsanudin melalui sambungan selulernya..

Selain status redlist atau kritis, lanjutnya, International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) telah juga telah merilis dan mengkategorikan status satwa-satwa liar. Mulai dari rentan punah hingga melimpah,    

Baca juga: Suasana CFD ala Ibu-ibu di Bangkalan, Setiap Hari Minggu Promosikan UMKM hingga Pelayanan Kesehatan

Kumpulan Berita Lainnya seputar Bangkalan

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunMadura.com

Ihsanudin menjelaskan, keberadaan hewan melata atau reptil seperti Sanca itu di tengah kota atau pada penduduk karena didorong oleh keberadaan hewan mangsa atau prey. Menurutnya, Sanca memang sangat mudah sekali beradaptasi dengan lingkungan.  

“Meskipun secara wildlife, mereka ada di hutan namun bisa saja beradaptasi dengan lingkungan pemukiman, perkotaan, atau di manapun. Karena sistem penangkapan mangsa, mereka model kamuflatif, inklusif. Jadi begitu ada prey (mangsa) disergap dan menghilang lagi,” jelasnya.

Menurutnya, hadirnya dua ekor Sanca dalam dua bulan terakhir di Kota Bangkalan bukanlah hal yang aneh. Bahkan munculnya ular-ular besar di kawasan padat penduduk itu sudah banyak ditemukan di atap rumah warga.

“Selama di situ (atap) ada banyak tikus. Bahkan pernah kejadian di Jakarta, ditemukan di gorong-gorong di sebuah perumahan. Di situ berproses lama sekali hingga sepanjang 5 meter hingga 6 meter,” paparnya.

Ia menambahkan, selama mangsa masih terjangkau hingga mendukung untuk kebutuhan nesting (bersarang), feeding (makanan), dan regenerasi, ular dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan.

“Apakah di perumahan, di kawasan hutan atau rawa, ular akan tetap hidup selama ada mangsa. Kemudian bisa regenerasi di situ, ya tidak masalah. Alamiahnya mereka seharusnya di rawa namun mungkin di beberapa titik di Kota Bangkalan banyak berkembangan perumahan. Sehingga mereka merasa terganggu,” pungkasnya. 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved