Berita Viral

Bocah 11 Tahun Rela Jadi Badut di Jalanan demi Ayah, Punya Kakak tapi ‘Udah Lupa’, Cita-cita Mulia

Meski masih berusia 11 tahun, bocah ini rela menjadi badut jalanan demi membantu ayahnya. Tak hanya itu, dia juga punya cita-cita mulia.

TikTok.com
Meski masih berusia 11 tahun, bocah ini rela mencari nafkah dengan menjadi badut jalanan. Dia mengaku mempunyai kakak, tapi 'sudah lupa'. 

Di sisi lain, seorang siswi yatim piatu di Sulawesi Tenggara rela berjalan kaki 14 kilometer demi menuntut ilmu.

Tak hanya itu, siswi tersebut membuat kepala sekolahnya terkagum-kagum lantaran tak pernah terlambat datang ke sekolah.

Dengan segala keterbatasan, dia terus semangat bersekolah bahkan menjadi siswa unggulan.

Perkenalkan, siswi tersebut bernama Leni yang masih berusia 15 tahun.

Tahun ini, dia menduduki bangku Sekolah Menengah Atas atau SMA.

Diketahui, Leni merupakan siswi SMA Negeri 1 Wangiwangi.

Kisahnya menyita perhatian lantaran tetap berprestasi di tengah keterbatasan yang dia miliki.

Untuk bersekolah, Leni harus berjalan kaki sepanjang 14 kilometer.

Dia juga masih mengenakan seragam SMP meski sudah menjadi siswi SMA.

Kendati demikian, Leni tak minder ataupun malu kepada teman-temannya.

Perihal berjalan kaki ke sekolah, Leni mengaku sudah melakukannya sejak sekolah dasar atau SD.

"Saya tidak minder dengan teman-teman lain.

Saya dari SD sudah berjalan kaki," kata Leni dilansir dari Kompas.com, Jumat (10/11/2023).

Leni rupanya memiliki cara sendiri agar ia tidak telat ke sekolah meski jarak dari rumahnya cukup jauh.

Baca juga: Nasib 3 Pembully Diduga Anak Polisi & DPRD, Dikeluarkan dari Sekolah, Sempat Klarifikasi ‘Bercanda’

Leni, siswi SMA di Wakatobi setiap harinya berjalan kaki 14 kilometer untuk ke sekolah.
Leni, siswi SMA di Wakatobi setiap harinya berjalan kaki 14 kilometer untuk ke sekolah. Pakai seragam SMP meski sudah duduk di bangku SMA.

Supaya tidak terlambat, Leni yang masuk siang, mulai berjalan kaki dari rumahnya di dusun Langgaha Baru, Desa Wungka, Kecamatan Wangiwangi Selatan, sekitar pukul 10.00 wita.

"Saya mulai pergi ke sekolah jam 10.00 Wita, tiba sekitar jam 12.00.

Kalau pulang jam 4 atau jam 5 (sore) tapi tiba di rumah sudah mau maghrib," ucap Leni.

Disisi lain, Kedua orangtua Leni sudah meninggal dunia sejak Leni masih di sekolah dasar, sehingga ia bersama kedua adiknya yang masih kecil.

Ditambah lagi sang paman kemudian meninggal dunia.

Leni dan kedua adiknya pun tinggal bersama dengan neneknya yang sudah lumpuh dan stroke.

Baca juga: Nasib Tragis Siswa di Gresik, Kecelakaan saat Berangkat Sekolah, Nyawa Tak Tertolong

Untuk memenuhi kebutuhan setiap hari, Leni saling bahu membahu dengan kedua adiknya dengan kerja jadi buruh bangunan dan Leni menjual kelapa.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Wangiwangi, Yuwono mengatakan, sejak awal masuk SMA, Leni menggunakan seragam SMP-nya.

"Maka kami dari guru bermaksud untuk mengumpulkan sedekah Jumat dan kami akan berikan pakaian seragam.

Kemudian teman-teman kelasnya dengan rasa iba mengumpulkan sumbangan dan sumbangan itu diberikan kepada Leni di rumahnya," kata Yuwono.

Yuwono menjelaskan, Leni termasuk anak yang cerdas dan pintar sehingga Leni ditempat di kelas unggulan di sekolahnya.

"Ia kalau ke sekolah tidak pernah terlambat.

Hanya kalau pulang, dia tiba di rumahnya sudah habis maghrib," ungkap Yuwono.


----

Berita Madura dan berita viral lainnya.

Informasi berita menarik lainnya di Google News TribunMadura.com

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved