Berita Surabaya
Selalu Ada Tawuran Bersenjata Celurit Setiap Sabtu dan Minggu di Surabaya
Tawuran antarkelompok perusuh kerap terjadi di Kota Surabaya pada Sabtu dan Minggu.
Penulis: Tony Hermawan | Editor: Januar
Laporan wartawan Tribun Jatim Network, Tony Hermawan
TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Tawuran antarkelompok perusuh kerap terjadi di Surabaya pada Sabtu dan Minggu.
Sabtu malam biasanya kelompok perusuh berkumpul terlebih dahulu bersama teman-temannya, sembari janjian dengan kelompok lawan lewat media sosial. Setelah lokasi tawuran sudah ditentukan, biasanya Minggu dini hari di atas pukul 1 dua kelompok saling bergerak untuk bentrok.
Misalnya tawuran yang terjadi di Jalan Kapas Madya Gang II, Kecamatan Tambaksari pada, Minggu (28/1). Ada dua kelompok pemuda berjumlah belasan orang berencana melakukan aksi serang pada sekira 4.30 WIB. Untungnya rencana mereka ketahuan polisi.
Empat pemuda akhirnya diamankan di Polsek Tambaksari.
Dari empat orang yang diamankan tiga diperbolehkan pulang pasalnya tidak membawa senjata tajam. Sementara satu orang bernama Ferdiansyah (21) asal Sidoyoso harus mendekam di balik jeruji besi lantaran dikenakan Undang-Undang Darurat karena terbukti membawa celurit berukuran sekitar 70 centimeter.
Bentuk plat besi celurit tersebut lumayan tipis dan ada motif gambar padi, biasanya senjata semacam itu dijuluki celurit bulu ayam.
Baca juga: Kedapatan Bawa Celurit saat Hendak Tawuran, 3 Remaja Ini Terbirit-birit Dicokok Polisi
Ferdiansyah mengaku ada beberapa alasan mengapa di Surabaya sering terjadi tawuran pada akhir pekan. Ada sebagaian anak muda menggunakan media sosial bukan untuk mencari teman, namun mencari musuh. Nah, rata-rata pelaku-pelaku dari latar belakang golongan pelajar, sehingga mereka memilih tawuran pada Sabtu atau Minggu dini hari.
"Kalau hari biasa kan banyak yang tidak boleh keluar sama orang tuanya karena harus sekolah. Kalau malam minggu kan lebih bebas," ucapnya.
Ada yang berbeda senjata tawuran anak muda zaman dulu dengan masa sekarang. Dulu senjata tajam yang digunakan biasanya membuat sendiri dari plat besi, gerinda, atau perkakas lain. Sekarang penghabisan yang dipakai rata-rata adalah celurit.
Ferdiansyah mengungkapkan zaman sekarang bisa sangat mudah memiliki celurit. Tidak perlu repot-repot pergi ke tempat pande besi. Di media sosial ada lapak marketplace banyak sekali celurit berbagai jenis dan ukuran dijual dengan harga terjangkau.
Si pedagang sebenarnya sudah mewanti-wanti agar celurit tidak disalahgunakan. Biasanya dijual hanya untuk sekedar hiasan, koleksi, dan cinderamata atau tidak lebih dari mewariskan budaya. Namun, nyatanya banyak anak muda yang menyalahgunakan.
Ferdiansyah kini harus dikurung setelah gagah-gagahan dengan celurit. Ancaman hukumannya bukan sebentar. Yaitu sepuluh tahun penjara.
Kanit Polsek Tambaksari Aiptu Aman Hasta membeberkan tawuran di Surabaya biasanya terjadi Jumat malam, Sabtu malam, dan Minggu dini hari. Sebagai upaya preventif setiap malam pihaknya selalu menggelar patroli di wilayah hukumnya. Dia mengatakan tidak akan toleransi terhadap siapa pun yang terbukti membuat berbuat onar.
"Contoh pelaku Ferdiansyah meskipun tidak jadi tawuran tapi tetap kami jerat dengan Undang-Undang Darurat. Mengapa, karena judulnya sudah membawa senjata tajam tanpa memiliki izin," tandasnya.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunMadura.com
Ditekan Terus oleh Brimob Bertameng dan Bawa Pentungan, Massa Aksi di Surabaya Bertahan Semampunya |
![]() |
---|
Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga, Taman Zakat Luncurkan Taman Gizi untuk Budidaya Ayam Petelur |
![]() |
---|
Demo Ojol Dilindas Rantis Brimob Memanas di Surabaya , Polisi Tembak Gas Air Mata, Suasana Mencekam |
![]() |
---|
Nasib Terkini Pengusaha Surabaya yang Pernah Tahan Ijazah Pegawai, Kini Gudangnya Dibobol Maling |
![]() |
---|
Ngakunya Gemas, Kakek 60 Tahun Lecehkan Anak Tetangga, Korban Diminta Jadi Pacar dan Dielus-elus |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.