Selasa, 19 Mei 2026

Hikmah Ramadan 2025

Merawat Kemabruran Puasa, dari Tahmid ke Syukur

Tahmid ialah ungkapan spontanitas seseorang yang baru saja merasakan nikmat dan karunia Allah SWT dengan mengucapkan kata Alhamdulillah.

Tayang:
Editor: Taufiq Rochman
Tribunnews.com/ Irwan Rismawan
HIKMAH RAMADAN - Menteri Agama Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA menulis artikel Hikmah Ramadan 2025 berjudul "Merawat Kemabruran Puasa, dari Tahmid ke Syukur" yang tayang pada Senin (17/3/2025) 

Oleh: Menteri Agama Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA

TRIBUNMADURA.COM - Tahmid ialah ungkapan spontanitas seseorang yang baru saja merasakan nikmat dan karunia Allah SWT dengan mengucapkan kata Alhamdulillah.

Kata ini berasal dari akar kata hamida-yahmadu, yang berarti segala puji hanya tertuju kepada Allah SWT.

Sedangkan syukur lebih dari sekadar bertahmid.

Syukur berasal dari kata syakara-yasykuru, yang berarti bersyukur, berterima kasih.

Sedangkan menurut istilah, oleh sebagian ulama dikatakan bahwa syukur adalah mengeluarkan hak-hak orang lain dari nikmat Allah yang kita peroleh.

Misalnya, mengeluarkan zakat minimal 2,5 persen sebagai zakat, ditambah dengan sadaqah dan berbagai bentuk pemberian lainnya kepada mereka yang berhak.

Menurut para ahli, hakikat syukur adalah menyandarkan segala nikmat kepada pemberi nikmat dengan sikap rendah diri.

Atas dasar pengertian inilah Allah SWT mempunyai sifat asy-syakûr, syukur yang sangat luas. Allah SWT memberikan balasan kepada para hamba-Nya atas kesyukurannya.

Al-Junaid mengatakan, syukur ialah engkau tidak memandang dirimu sebagai pemilik nikmat.

Syâkir adalah orang yang mensyukuri atas adanya pemberian, sedangkan syakûr adalah orang yang mensyukuri atas penolakan.

Ada juga yang mengatakan, syâkir adalah orang yang mensyukuri atas nikmat, sedangkan syakûr adalah orang yang mensyukuri atas musibah yang menimpanya.

Menurut Al-Syiblî, syukur ialah melihat kepada pemberi nikmat dan bukan kepada nikmatnya.

Pernyataan ini diperkuat dengan ucapan Nabi Ayyub AS yang bersikap sabar terhadap musibah yang menimpanya, sehingga ia disebut sebagai hamba yang sebaik-baiknya.

Demikian juga Nabi Sulaiman AS yang bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya sehingga ia disebut juga sebagai hamba yang sebaik-baiknya.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved