Kamis, 9 April 2026

Hikmah Ramadan 2025

Dengan Puasa Ramadan: Seseorang Dapat Mengatur Ritme Emosi

Umat Islam sudah sangat familier dengan al-Aqur’an surat Al-Baqarah ayat 183, firman Allah yang menjadi dasar hukum dalam melaksanakan ibadah puasa

Editor: Januar
Istimewa
HIKMAH RAMADAN - Dr. Maskuri, M.Pd.I, Sekretaris Komisi HUU MUI Jatim menulis artikel Hikmah Ramadan 2025 berjudul "Dengan Puasa Ramadan: Seseorang Dapat Mengatur Ritme Eemosi" tayang pada Kamis (20/3/2025). 

Oleh: Dr. Maskuri, M.Pd.I, Sekretaris Komisi HUU MUI Jatim

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA-Umat Islam sudah sangat familier dengan al-Aqur’an surat Al-Baqarah ayat 183, firman Allah yang menjadi dasar hukum dalam melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadan.
Obyek yang diperintah melaksanakan puasa adalah orang-orang yang beriman, dan dengan puasa mereka para mukmin terus menjadi pribadi yang bertakwa. 

Para ahli tafsir “sepakat” bahwa ibadah puasa, selain menunaikan perintah Allah, ada berbagai hikmah (kebaikan yang selalu melekat dalam diri seseorang) yang dapat dijadikan ‘ibrah (pelajaran), baik untuk kepentingan jiwa raga, maupun kepentingan interaksi sosial.

Puasa dapat menimbulkan kesadaran dan kasih sayang antar sesama, tumbuh empati dan simpati kepada orang lain dalam berbagai keadaan. Secara lahiriyah (syari’at), puasa itu menahan nafsu makan, minum, dan segala macam perbuatan yang dapat membatalkannya. Mulai terbit matahari sampai terbenam, dengan diawali niat yang Ikhlas karena Allah. 

Kita pernah merasa lapar dan haus, maka lihatlah mereka yang kekurangan makan, kekurangan minum, bahkan kekurangan kebutuhan pokok untuk memenuhi hajat hidup yang sangat mendasar. Terbentuklah jiwa yang suci, yakni menampilkan sosok pribadi orang yang bertakwa  dengan cermin kepedulian sosial. Hidup tidak bisa jalan sendiri, walau punya segalanya, harta, ilmu, status sosial, jabatan, dan privilege lainnya yang melekat. Orang yang tidak merasakan empati kepada orang lain tatkala ada penderitaan, patut dipertanyakaan dampak puasanya. Hanya mampu menahan lapar dan dahaga, tanpa mendapatkan dampak kejiwaan makna puasa. Para ahli tasawuf menyebutkannya dengan sia-sialah mereka yang berpuasa. 

Persiapan jiwa yang bersih menjadi penting bagi para sho’imin (orang-orang yang berpuasa), sehingga sasaran perintah puasa diarahkan pada orang-orang yang beriman. Bisa saja secara lahir tampak berpuasa, tapi kita tidak tahu apakah seseorang sedang puasa atau tidak, karena itu, puasa menjadi jalan privasi seseorang kepada Tuhan untuk diakui sebagai hambat yang ta’at.  Kejujuran adalah salah satu hikmah puasa yang akan terasa dampaknya, untuk kemaslahan pribadi maupun orang lain. Maka niat menjadi salah satu indikator, bahwa seseorang  itu jujur dalam menentukan tujuan hidupnya.

Selain familier dengan surat al-Baqarah ayat 183, esensi puasa juga dapat terlihat dalam surat Ali ‘Imran ayat 134.  Jika surah al-Baqarah menjelaskan esensi puasa agar selalu menjadi pribadi bertakwa, surat Ali ‘Imran menjelaskan ciri-ciri atau sifat orang-orang yang bertakwa, baik dalam kontek vertikal maupun horizontal (sesama manusia). 

Orang-orang yang bertakwa adalah mereka selalu berinfak, mendermakan harta yang telah diperoleh untuk kepedulian sosial kepada orang lain, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Diriwayatkan dalam suatu hadits, Aisyah Ummul Mukminin pernah bersedekah hanya dengan sebiji anggur, sementara sahabat Nabi lainnya ada yang pernah bersedekah dengan sebiji bawang. Nilai sedekah walau tampat sedikit, seakan tak bernilai, menunjukkan bukti  bahwa seseorang memiliki kepekaan sosial dengan menginfakkan sebagian harta yang dimiliki. Bahkan jika tidak ada sama sekali harta yang dimiliki, tersenyum kepada orang lain sebagai wujud menyenangkan, adalah bagian dari sodakah. Tidaklah bertakwa jika seseorang belum menunjukkan kepedulian sosial terhadap sesamanya.

Selanjutnya, ciri-ciri orang bertakwa dapat terlihat dari sikapnya yang selalu menjaga diri agar tidak mudah marah, mampu menahan emosi saat dirinya terpancing dengan keadaan jiwanya di tengah kehidupan sosial masyarakat, dalam al-Qur’an disebutkan dengan kalimat wal kadhimina al-ghaidl (menahan emosi). Tidak mudah mengelola jiwa agar tidak mudah emosi. 

Dengan berpuasa seseorang dilatih untuk mengatur jiwanya agar tidak mudah terpancing emosinya. Marah memang manusiawi, tetapi kalau selalu marah, itu sudah lepas kendali kemanusiaannya. Manusia yang baik adalah mereka yang mampu mengelola nafsunya agar tidak mudah tergoda dengan kehidupan lain yang mengakibatkan marah. 

Kata Rhoma Irama dalam salah satu liriknya, ..jadi orang jangan pemarah, salah sedikit naik darah, kalau kita jadi pemarah teman jauh rejeki susah. Lebih baik jadi peramah, salah sedikit maafkanlah, kalau kita jadi peramah, teman banyak rejeki mudah. 

Era media sosial (medsos), batas kehidupan sosial tanpa sekat, keterbukaan informasi yang tak terbendung, sebagai orang bertakwa harus bisa mengatur ritme emosi. Jika pada umumnya komunikasi lisan menjadi salah satu faktor penting dalam kehidupan sosial, sampai Nabi menyatakan bahwa keselamatan seseorang tergantung bagaimana pandai menjaga lisannya.  Maka pada era medsos, kepandaian menjaga tangan agar menggoreskan tulisannya dalam platform media, adalah keniscayaan yang tak terelakkan. Untuk mengatur kehidupan keterbukaan informasi, pemerintah telah mengaturnya dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transasksi Elektronik (ITE). 

Berapa banyak orang terjerat tindak pidana karena menyinggung orang lain melalui tulisan di media. Mengupload gambar yang menimbulkan ketersinggungan orang lain, walau awalnya bermaksud gurau, tapi karena yang membaca dan melihat orang-orang dari latar belakang yang beragam, akibatnya gurauan menjadi alat bukti tindak pidana. Orang yang bertakwa tidak boleh sembarangan bermedia di ruang publik, selektif dalam membaca setiap gejala sosial. Tidak reaktif dalam merespon hiruk pikuk tulisan, gambar, dan video yang mengarah pada “kejahatan sosial”.   

Kemampuan mengendalikan emosi setiap orang tidak sama, para ahli tafsir memberikan penjelasan, bahwa menahan emosi itu sesuai kemampuan atau ukuran masing-masing orang ( al-Kaafina ‘an imdla’ihi ma’a al-qudrat). Melampiaskan emosi harus sesuai keadaan, kepada apa dan siapa kita melampiaskan marahnya. Yang terbaik adalah tidak mudah marah, tapi perangai yang peramah menjadi pilihan hidupnya.

Mudah memaafkan kesalahan orang lain, juga menjadi bagian dari sifat-sifat orang yang bertakwa sebagaimana disebutkan dalam surat Ali ‘Imran ayat 134. Kalau kita disakiti orang lain, terbuka lebar menerima permintaan maaf atas kesalahan orang lain. Tidak suka menebar perbuatan salah yang dilakukan orang lain. Dengan menutupi aib orang lain sebenarnya kita sedang menutup aib diri sendiri. Jika kita yang melakukan kesalahan (sengaja atau tidak) kepada orang lain, apa pun bentuknya, segeralah meminta maaf kepada orang yang telah disakiti perasaan jiwanya. 

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved