Rabu, 8 April 2026

Hikmah Ramadan 2025

Merawat Kemabruran Puasa, dari Wirid ke Warid

Wirid dan warid berasal dari akar kata yang sama, yaitu warada-yaridu, berarti menemukan. Wirid dibedakan dan zikir.

Editor: Taufiq Rochman
Via Tribun Jateng
HIKMAH RAMADAN 2025 - Menteri Agama Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA menulis artikel Hikmah Ramadan 2025 berjudul "Merawat Kemabruran Puasa, dari Wirid ke Warid" tayang pada Rabu (26/3/2025). 

Oleh: Menteri Agama Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA

TRIBUNMADURA.COM - Wirid dan warid berasal dari akar kata yang sama, yaitu warada-yaridu, berarti menemukan.

Wirid dibedakan dan zikir.

Zikir adalah amalan berupa penyebutan atau mengingat nama-nama Allah SWT.

Pengertian seperti ini sama dengan wirid.

Hanya bedanya, wirid sudah diatur jumlah, jenis bacaan, metode, dan waktu pembacaannya.

Wirid adalah amalan hati dan yang secara telaten dilakukan seorang arifin di dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.  

Sedangkan warid adalah efek atau bekas yang tertinggal di dalam bentuk suasana batin dan karakter setelah secara rutin mengamalkan wirid.

Dengan demikian, sulit membayangkan adanya warid tanpa adanya wirid yang diamalkan secara rutin.

Warid adalah sesuatu yang datang dari hati berupa bisikan-bisikan yang terpuji, kemudian melahirkan ketenangan batin.

Kehadirannya bukan karena disengaja tetapi lebih merupakan anugrah Allah SWT.

Jika seseorang telah melakukan dosa maka biasanya akan melahirkan kegelisahan dan rasa serba salah, yang dampaknya dapat dibaca oleh orang lain.

Sebaliknya warid adalah suasana ketenangan dan kejernihan batin yang dirasakan seseorang sebagai efek dari amalan zikir dan wirid.  

Ibnu 'Athaillah mengatakan: “Jangan kita menganggap rendah hamba yang memiliki wirid dan ibadah tertentu, karena keduanya memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah.”

Ia menambahkan: “Jika engkau melihat seorang hamba yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wiridnya, dan dilanggengkan-Nya dalam keadaan demikian, namun lama ia tidak mendapatkan pertolongan-Nya, maka jangan sampai engkau meremehkan apa yang Allah telah berikan itu kepadanya, hanya karena engkau belum melihat tanda-tanda orang ‘arif ataupun cahaya indah seorang pencinta Allah pada diri hamba itu. Kalaulah bukan karunia berupa warid, tentu tidak akan ada wirid.”  

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved