Minggu, 19 April 2026

Fenomena Post-Vacation Blues usai Libur Lebaran, Psikolog Jelaskan Penyebab dan Solusinya

Tanda-tanda seseorang mengalami post-vacation blues biasanya meliputi rasa cemas saat harus kembali ke rutinitas, perasaan murung dan gelisah.

Penulis: Afrilia Mustika Damayanti | Editor: Arie Noer Rachmawati
Kompas Lifestyle
POST-VACATION BLUES - Ilustrasi seseorang yang mengalami post-vacation blues usai libur lebaran. Simak penjelasan mengenai penyebab dan soslusinya menurut psikolog. 

TRIBUNMADURA.COM - Setelah merayakan Lebaran dengan penuh suka cita, tidak sedikit orang justru mengalami suasana hati yang muram saat kembali ke rutinitas harian. 

Perasaan sedih, kecewa, bahkan enggan beraktivitas kembali muncul usai liburan.

Psikolog klinis dewasa, Adelia Octavia Siswoyo, M.Psi., menjelaskan kondisi ini dikenal sebagai post-vacation blues atau post-vacation depression.

Fenomena ini tidak terbatas pada mereka yang berlibur saat Lebaran saja, tetapi bisa dialami siapa pun setelah menjalani liburan, apa pun momennya.

“Post-vacation depression adalah kondisi ketika seseorang mengalami dan merasakan berbagai perasaan tidak menyenangkan secara berlebihan, seperti sedih, menyesal, marah, atau kecewa, setelah liburan,” jeals Adelia, dikutip dari Kompas.com.

Baca juga: Wisata Pantai Camplong Sampang Alami Lonjakan Pengunjung di Libur Lebaran

Post-vacation blues muncul akibat adanya perbedaan yang mencolok antara suasana liburan dan aktivitas rutin sehari-hari.

Contohnya, perbedaan bisa terlihat dari emosi dan suasana yang dirasakan selama liburan dibandingkan saat kembali ke rutinitas, termasuk interaksi dengan orang-orang di sekitar serta lingkungan yang ditempati.

“Liburan memberi rasa senang sedangkan di rutinitas harian, sulit untuk menyadari perasaan senang yang serupa,” kata Adelia.

Gejala Post-vacation Blues

Tanda-tanda seseorang mengalami post-vacation blues biasanya meliputi rasa cemas saat harus kembali ke rutinitas, perasaan murung dan gelisah, hingga munculnya penyesalan. 

Selain itu, seseorang juga bisa terus-menerus merasa rindu dengan momen liburan yang telah berlalu.

Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, baik di dunia kerja maupun pendidikan, serta memengaruhi hubungan sosial dengan orang-orang di sekitarnya.

Adelia mengungkapkan rasa takut untuk kembali menjalani rutinitas kemungkinan besar berasal dari rutinitas itu sendiri yang sebelumnya sudah menjadi pemicu stres sebelum mereka pergi berlibur.

Meskipun mirip dengan gejala depresi, post-vacation blues tidak termasuk dalam kategori gangguan mental resmi, seperti yang tercantum dalam Pedoman Penggolongan dan Diagnosa Gangguan Jiwa (PPDGJ), atau Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders V (DSM-5). 

Namun, dampaknya tidak bisa disepelekan karena bisa menurunkan kualitas hidup, produktivitas, hingga merusak relasi sosial.

Baca juga: Libur Lebaran 2025, Ada Tempat Berenang Alami Seindah Ini di Bondowoso, Belum Banyak Terekspose

Cara Mencegah Post-vacation Blues

Psikolog klinis dewasa, Adelia Octavia Siswoyo, M.Psi., menyatakan post-vacation blues dapat dicegah.

  1. Fokus pada momen liburan

Langkah pertama untuk mencegah post-vacation blues adalah dengan menjadi "sadar" atau mindful selama liburan berlangsung.

“Menjadi sadar atau mindful maksudnya adalah fokus total dengan apa yang sedang dilakukan agar tidak ada penyesalan saat liburan berakhir,” papar Adelia.

Seseorang yang mindful saat berlibur akan lebih mudah merasa puas karena perhatiannya tertuju pada pengalaman dan perasaan yang muncul selama perjalanan.

Mereka benar-benar menyadari apa yang mereka rasakan dan lakukan saat itu.

Sebaliknya, jika selama liburan pikiran justru melayang ke hal-hal lain seperti kekhawatiran soal pekerjaan atau masalah yang belum terselesaikan, maka momen liburan tidak sepenuhnya dirasakan.

Hal ini bisa memicu rasa penyesalan setelah liburan usai.

Bahkan dalam aktivitas sederhana seperti menonton konser, fenomena ini bisa terjadi.

Seseorang bisa mengalami post-concert blues karena terlalu sibuk sendiri, misalnya merekam video sepanjang konser.

2. Rencanakan waktu luang

Dalam merancang agenda liburan, penting juga untuk menyisakan waktu jeda sebelum kembali ke aktivitas rutin.

Hindari menjadwalkan waktu pulang yang terlalu dekat dengan hari pertama masuk kerja atau sekolah.

Idealnya, atur waktu pulang setidaknya dua hingga tiga hari sebelum rutinitas dimulai kembali.

Waktu ini bisa dimanfaatkan untuk beristirahat, memulihkan energi, serta merenungkan kembali pengalaman selama liburan.

Dengan memberi ruang untuk transisi tersebut, tubuh dan pikiran akan lebih siap menghadapi tanggung jawab harian, baik secara fisik maupun mental.

Baca juga: Masjid Tiban Malang Jadi Favorit Warga Nikmati Liburan Lebaran, Konon Dibangun dengan Bantuan Jin

3. Buat rutinitas yang terjadwal

Setelah kembali dari liburan, penting untuk mulai menyusun rutinitas harian yang lebih terjadwal.

Ini mencakup penjadwalan waktu untuk beristirahat, makan, serta aktivitas kerja atau sekolah secara lebih konsisten.

Menurut Adelia, rutinitas yang terstruktur dapat membantu proses adaptasi dan memudahkan seseorang untuk kembali ke ritme produktif.

Jadwal yang jelas juga mampu meningkatkan fokus.

“Rutinitas yang terlalu random bikin kita cepat ‘lost’ dan bingung harus melakukan apa. Rutinitas yang terjadwal ini paling tidak dapat membantu kita tetap ‘on track’. Jadi, fokus pada kewajiban seperti istirahat, makan, dan berangkat kerja atau sekolah,” terang dia.

Fenomena post-vacation blues menjadi pengingat bahwa liburan memang menyenangkan, tapi kembali ke kehidupan nyata juga butuh strategi agar mental tetap sehat.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di TribunMadura.com

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved