Berita Terkini Sumenep
DBD di Sumenep Menurun, Dinkes Minta Warga Tetap Waspada
Meski angka kasus Demam Berdarah di Sumenep menunjukkan tren penurunan sepanjang tahun 2025, Dinas Kesehatan ingatkan masyarakat agar tak lengah
Penulis: Ali Hafidz Syahbana | Editor: Taufiq Rochman
Ringkasan Berita:
- Kasus DBD di Kabupaten Sumenep sepanjang 2025 menurun menjadi 1.159 kasus, dibandingkan 1.532 kasus pada tahun sebelumnya.
- Dinkes P2KB menilai penurunan dipengaruhi peningkatan kesadaran masyarakat, peran jumantik, PSN, dan pemberian abate, meski Kecamatan Kalianget masih mencatat kasus tertinggi.
- Memasuki awal 2026 yang rawan lonjakan kasus, masyarakat diimbau tetap waspada dan segera memeriksakan diri jika mengalami demam lebih dari tiga hari
Laporan Wartawan TribunMadura.com, Ali Hafidz Syahbana
TRIBUNMADURA.COM, SUMENEP - Meski angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sumenep menunjukkan tren penurunan sepanjang tahun 2025, Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) mengingatkan masyarakat agar tidak lengah, terutama memasuki awal tahun yang kerap menjadi puncak siklus penyebaran penyakit tersebut.
Berdasarkan catatan Dinkes P2KB Sumenep, hingga akhir Desember 2025 total temuan kasus DBD tercatat sebanyak 1.159 kasus.
Jumlah tersebut menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 1.532 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes P2KB Sumenep, Achmad Samsuri menyebut penurunan ini menjadi indikator positif keberhasilan upaya pencegahan yang dilakukan secara berkelanjutan di tingkat masyarakat.
"Kesadaran warga terhadap kebersihan lingkungan semakin meningkat, ditopang peran aktif kader jumantik di desa-desa serta edukasi rutin dari puskesmas," ucap Samsuri, Rabu (21/1/2026).
Baca juga: Kasus DBD di Sumenep Tembus 1.159 Sepanjang 2025, Kalianget Tertinggi
Ia menambahkan, pemberian abate secara berkala dan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) turut berkontribusi signifikan dalam menekan angka kasus DBD selama 2025.
Namun, Samsuri mengungkapkan bahwa Kecamatan Kalianget masih tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus tertinggi dibandingkan kecamatan lain di Sumenep.
Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus Dinkes untuk penguatan pengawasan dan edukasi lanjutan.
Laporan Kasus di Awal Tahun
Memasuki Januari 2026, Dinkes P2KB Sumenep mulai menerima laporan awal kasus DBD, meski jumlah pastinya masih dalam tahap pendataan oleh petugas lapangan di masing-masing wilayah kerja puskesmas.
"Secara historis, puncak kasus DBD memang sering terjadi pada awal tahun. Karena itu, laporan sudah mulai bermunculan dan terus kami pantau," katanya.
Pihaknya menegaskan, pentingnya langkah antisipasi sejak dini dengan tetap menjaga kebersihan lingkungan, menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, serta mengubur barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti.
Selain itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami demam selama tiga hari berturut-turut.
Deteksi dan penanganan dini dinilai krusial untuk mencegah risiko fatal akibat keterlambatan penanganan DBD.
"Penurunan kasus harus menjadi motivasi untuk semakin disiplin, bukan justru lengah," harapnya.
| Sumenep Serius Garap Energi Terbarukan demi Kemandirian Daerah |
|
|---|
| Sarasehan BEM–Pemkab Sumenep: Merajut Perencanaan dari Dialog dan Gagasan Kritis |
|
|---|
| Warga Gili Iyang Sumenep Cemaskan Dampak Tumpahan Minyak CPO, Ikan hingga Kepiting Ditemukan Mati |
|
|---|
| Baru 81 Siswa, Pendamping PKH Kejar Target Sekolah Rakyat di Sumenep |
|
|---|
| Relawan SPPG di Talango Sumenep Dilatih Prinsip Keamanan Pangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/madura/foto/bank/originals/Kabid-Pencegahan-dan-Pengendalian-Penyakit-P2P-Dinkes-P2KB-Sumenep-Achmad-Samsuri.jpg)