Kamis, 21 Mei 2026

Ramadan 2026

Puasa Tanpa Sahur, Apakah Tetap Sah? Ini Penjelasan MUI dan Pendapat Para Ulama

Sahur merupakan aktivitas makan dan minum yang dilakukan sebelum waktu imsak atau sebelum terbit fajar sebagai persiapan puasa seharian penuh.

Tayang:
Penulis: Mauidhotun Nisa | Editor: Dwi Prastika
Istimewa/TribunMadura.com/Mauidhotun Nisa
SAHUR - Suasana sahur bersama-sama di Bulan Ramadan. Sahur merupakan aktivitas makan dan minum yang dilakukan sebelum waktu imsak atau sebelum terbit fajar sebagai persiapan puasa seharian penuh, Selasa (3/3/2026). 

Ringkasan Berita:
  • MUI menegaskan, puasa tanpa sahur tetap sah secara hukum.
  • Sahur bukan rukun puasa, melainkan sunnah muakkad.
  • Umat Islam tetap dianjurkan sahur demi keberkahan dan menjaga stamina saat berpuasa.

TRIBUNMADURA.COM – Bulan Ramadan menjadi momen istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan amal ibadah dan memperbanyak pahala, Selasa (3/3/2026).

Salah satu ibadah utama yang diwajibkan adalah puasa Ramadan, yang dijalankan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Dalam praktiknya, puasa Ramadan identik dengan dua momen penting, yakni sahur dan berbuka.

Sahur merupakan aktivitas makan dan minum yang dilakukan sebelum waktu imsak atau sebelum terbit fajar sebagai persiapan menjalani puasa seharian penuh.

Namun, tidak sedikit umat Muslim yang terkadang melewatkan sahur karena berbagai alasan, seperti bangun kesiangan atau merasa sanggup berpuasa tanpa makan terlebih dahulu.

Lantas, bagaimana hukumnya puasa tanpa sahur? Apakah puasanya tetap sah?

Begini penjelasannya.

Baca juga: Sejarah Salat Tarawih, Dari Qiyam Ramadan hingga Disatukan di Masa Khalifah Umar

Penjelasan MUI

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2025-2030, Anwar Abbas, menegaskan, puasa tanpa sahur tetap sah secara hukum.

“Tidak masalah. Jelas sah,” ujar Anwar Abbas, seperti dikutip dari Kompas.com pada Senin (3/3/2026).

Dia mengatakan, sahur bukanlah syarat sah puasa.

Dengan demikian, seseorang yang tidak sempat sahur karena bangun kesiangan tetap dapat melanjutkan puasanya dan tidak perlu membatalkannya, selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa di siang hari.

Hal senada disampaikan Ketua Bidang Fatwa MUI periode 2025-2030, Asrorun Niam Sholeh.

Ia menjelaskan, sahur hukumnya adalah sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan.

“Sahur itu sangat dianjurkan meski hanya sesuap nasi, sepotong roti, sebutir kurma, atau seteguk air,” ujarnya, dikutip dari sumber yang sama.

Artinya, meskipun sangat dianjurkan, sahur bukan termasuk rukun puasa.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved