Rabu, 22 April 2026

Hikmah Ramadan

Melatih Diri untuk Diam dan Penjelasan Waktu Terbaik Berbicara

Satu di antara hikmah puasa ialah melatih diri untuk diam. Ada pepata kuno mengatakan: Diam adalah emas dan bicara adalah perak.

Editor: Dwi Prastika
TRIBUNNEWS/LENDY RAMADHAN
MENAG RI (Arsip) - Menteri Agama RI Nasaruddin Umar di Sutdio Tribun Network, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (28/1/2025). Foto ini digunakan untuk artikel Hikmah Ramadan berjudul "Melatih Diri untuk Diam dan Penjelasan Waktu Terbaik Berbicara." 

Berlatih untuk Diam

Oleh: Menteri Agama Prof Dr H Nasaruddin Umar.

TRIBUNMADURA.COM - Satu di antara hikmah puasa ialah melatih diri untuk diam. Ada pepata kuno mengatakan: Diam adalah emas dan bicara adalah perak.

Kita bisa setuju atau tidak dengan pepatah ini, tetapi yang pasti kita sendiri sering kali menyesal karena terlalu banyak bicara.

Kita juga sering bersyukur karena bisa bersikap diam dan mengendalikan diri sehingga terbebas dari fitnah dan marabahaya.

Kita juga sering setuju dengan pernyataan: Kita lebih gampang disuruh bicara ketimbang disuruh diam. Yang pasti mungkin semuanya kita pernah memilih diam sebagai jawaban yang paling tepat.

Dalam Alquran juga disebutkan Nabi Zakaria pernah mengalami hal ini sebagaimana diungkapkan dalam Surah Maryam.

Ia sangat berhasrat memiliki anak. Ia tak pernah berhenti berdoa meskipun usianya sudah tua dan istrinya juga demikian.

Sebagai wujud tanda syukur dan sekaligus nazar sekiranya ia berhasil dikaruniai anak maka ia akan berpuasa biara selama tiga hari, sebagaimana disebutkan dalam Alquran: “Zakaria berkata: 'Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda'. Tuhan berfirman: 'Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat.'" (QS Maryam/19:10).

Akhirnya doanya dikabulkan dan Nabi Zakaria pun menunaikan nazarnya dengan berpuasa bicara selama hari yang ditentukan.

Diam atau puasa bicara bukan pekerjaan mudah bagi orang normal.

Baca juga: Benarkah Sedekah Subuh Saat Ramadan Miliki Keutamaan Khusus? Simak Penjelasan Ustaz Faishal Abdan

Namun Allah SWT selalu mengingatkan kita agar hati-hati soal bicara, sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS Al-Ahzab/33:70).

Dalam hadis Nabi disebutkan: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Rasulunya maka hendaklah ia mengatakan yang benar atau lebih baik diam.

Nabi juga mengingatkan kita: “Sesungguhnya dosa yang paling banyak dilakukan oleh anak cucu Adam adalah pada lidahnya.

Musibah itu terwakili melalui ucapan.

Sesungguhnya dosa yang paling banyak dilakukan oleh anak cucu Adam adalah pada lidahnya.

Barangsiapa yang banyak bicara, banyak juga kekeliruannya. Barangsiapa yang banyak kekeliruannya, banyak juga dosanya. Barangsiapa yang banyak dosanya, maka nerakalah yang paling tepat tempatnya.

Banyak lagi ayat dan hadis yang mengingatkan kita agar jangan mengumbar pembicaraan yang tidak perlu. 

Baca juga: Sejarah Salat Tarawih, Dari Qiyam Ramadan hingga Disatukan di Masa Khalifah Umar

Kalangan sufi ada yang pernah mengatakan bahwa diam adalah keselamatan dan itulah yang esensial, sedangkan bicara adalah bukan esensial.

Orang-orang masih memperselisihkan, mana yang lebih utama antara diam dan bicara.

Namun, yang lebih tepat adalah masing-masing antara diam dan bicara memiliki keutamaan dibandingkan dengan yang lain tergantung pada situasi dan kondisinya.

Diam lebih utama dilakukan pada situasi dan kondisi tertentu, dan pada situasi lain, justru bicara lebih utama, tergantung situasi dan kondisi tentunya. 

Namun perlu juga diingat tidak selamanya diam itu pilihan terbaik.

Adakalanya seseorang harus dan wajib biara, terutama menyuarakan kebenaran, sebagaimana sabda Nabi: “Katakanlah kebenaran itu meskipun pahit.

Baca juga: Ramadan Menjadi Bulan Pertobatan, Simak Penjelasan Tentang Taubat Inabah dan Istijabah

Basyar al-Hafi pernah mengatakan: “Jika suatu pembicaraan membuatmu terkagum-kagum, maka sebaiknya anda diam saja. Dan jika diam justru membuatmu terkagum-kagum, maka sebaiknya anda angkat bicara.

Hal senada juga disampaikan Lukman kepada putranya: “Jika bicara itu adalah perak, maka diam adalah emas. Sesungguhnya aku menyesali atas suatu ucapan berulang-ulang, namun aku tidak menyesali diam sekali pun. Abu Ali al-Daqqaq juga pernah berkomentar: “Barangsiapa diam dari kebenaran, maka dia adalah setan bisu.

Dalam situasi lain, seseorang yang diminta untuk harus bicara, terutama jika pembiaraan itu mendatangkan maslahat dan mencegah mudharat.

Tantangan kita ialah bagaimana menjadikan diri kita bukan sebagai iblis cerewet atau iblis bisu.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved