Breaking News:

New Normal di Jawa Timur

PWNU Jatim Serahkan Penerapan New Normal Life di Pondok Pesantren kepada Masing-masing Pengasuh

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur menyerahkan penerapan New Normal Life di pondok pesantren ke masing-masing pengasuh ponpes.

TRIBUNMADURA.COM/DONI PRASETYO
Sebanyak 24 santri Pondok Pesantren Al Fatah, Desa Temboro, Kabupaten Magetan yang terinfeksi virus corona atau Covid-19 dinyatakan sembuh setelah dirawat di ruang isolasi. 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur ( PWNU Jatim ) menyerahkan penerapan new normal life di Pondok Pesantren kepada masing-masing pengasuh Pondok Pesantren.

Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar menjelaskan penerapan new normal life telah dibahas dalam rapat pengurus PWNU Jatim.

"Kita menyerahkan ke pengasuh masing-masing. Tentu setelah memperhitungkan kerawanan dan menegakkan protokol sebisa mungkin dan pamit ke pemerintah setempat serta satgas Pemda setempat," kata KH Marzuki Mustama, Rabu (3/6/2020).

Hal tersebut dilakukan agar kepala desa, lurah ataupun camat bisa menjelaskan ke warga sekitar jika santri yang kembali ke pesantren dalam kondisi yang sehat sehingga tidak ada kesalahpahaman dengan warga sekitar.

Pemerintah Putuskan Tidak Berangkatkan Haji 2020, Kiai Ponpes Sabilurrosyad Gasek: CJH Harus Maklumi

Banyak Wisman Eropa Batalkan Kunjungan ke Jatim hingga Bulan Agustus, Disbudpar: Ada Travel Warning

85 Pasien Terkonfirmasi Positif Covid-19 di Kabupaten Malang, Dinkes Waspadai Klaster Singosari

"Jadi sebelum balik dilakukan cek kesehatan yang sewajarnya. Kalau santri itu dari desa lalu tidak pernah keluar ya tidak usah keterlaluan mengeceknya, kecuali dari zona merah perlu diketatkan," lanjut Pengasuh Ponpes Sabilurrosyad, Gasek, Kota Malang ini

PWNU Jatim juga tidak membuat rambu-rambu atau imbauan kapan sebaiknya para santri mulai kembali masuk.

"Tergantung kesiapan masing-masing pondok kalau diseragamkan tanggal sekian masuknya nanti ada yang merasa kelamaan ada yang merasa terlalu cepat," lanjutnya.

Di Ponpes Sabilurrosyad sendiri, KH Marzuki Mustama tidak pernah memaksa agar santrinya pulang selama Pandemi Covid-19.

"Kita membebaskan yang mau pulang monggo yang tidak monggo. Karena misalnya ada santri dari Jakarta, lalu kita suruh pulang sama saja menyuruh bunuh diri karena di Jakarta lebih rawan," kata KH Marzuki Mustama.

Salah satu alasannya adalah keraguan KH Marzuki Mustama terhadap data persebaran Covid-19 yang menurutnya tidak seratus persen akurat.

"Banyak laporan yang bukan Covid-19 dibuatkan berita acara Covid dikarena per mayit ada dananya. Di Dampit, Tulungagung, Kawi ada kasus seperti itu," lanjutnya.

Jalani Sidang Perdana Korupsi, Bupati Sidoarjo Nonaktif Saiful Ilah Merasa Dirinya Menjadi Korban

Kapolres Pamekasan Tinjau Kampung Tangguh, Berikan Bantuan Sembako untuk Warga Terdampak Covid-19

Era New Normal Naik Kereta Api Jarak Jauh, Penumpang Wajib Pakai Face Shield, Alatnya Disediakan KAI

Ia juga bercerita banyaknya masyarakat yang mengikuti Salat idul Fitri walaupun pemerintah gencar menyosialisasikan solat di Idul Fitri di rumah.

"Kota Malang ada 500an masjid, hanya satu dua yang tidak salat. Puluhan ribu jemaah salat id dan banyak yang tidak pakai protokol, nyatanya sampai sekarang sudah masuk hari ke 11-12 tidak ada kabar apa-apa, artinya aman-aman," kata Marzuki.

"Makanya saya tidak yakin seratus persen kalau segitu banyak angkanya ( Covid-19 )," pungkasnya.

Penulis: Sofyan Candra Arif Sakti
Editor: Elma Gloria Stevani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved